Rampai Budaya Sehingga Kalam Memuncak

Warisan Akal-budi UU Hamidy

Oleh: Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim, MT

 

Dalam tahun 2012-2013 saya dengan Rida K Liamsi

selalu berkomunikasi, baik melalui telepon genggam

maupun secara langsung di Kota Tanjungpinang.

Kami membicarakan tentang kebudayaan dan tamadun Melayu.

Maklum saja kami berdua adalah di antara penulis

yang menjadi Tim Penulis Buku

Sejarah Kejuangan dan Kepahlawanan Sultan Mahmud Ri’ayat Syah

Yang Dipertuan Besar

Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang (1761-1812).

Buku itu disusun atas penugasan Bupati Kabupaten Lingga, H. Daria

dalam rangka pengusulan Sultan Mahmud Ri’ayat Syah

(Sultan Mahmud Syah III) menjadi Pahlawan Nasional.

Dalam perbincangan saya dengan Rida K Liamsi

selalu pula menyebut-nyebut nama dan karya UU Hamidy.

Saya pernah pula dihubungi oleh Taufiq Ismail—

melalui telepon genggam, dan saya lupa tanggal dan bulan apa—

menanyakan kesehatan UU Hamidy.

Untung waktu itu saya baru saja menerima informasi

tentang kesehatan UU Hamidy dari putrinya Purnimasari.

Selanjutnya di Rumah Budaya Fadli Zon,

Jl. Raya Pandangpanjang-Bukittinggi, Km.6, Aie Angek,

Tanahdatar, Sumatera Barat, 26 Maret 2013

saya, Taufiq Ismail, Ati Taufiq Ismail, Darman Moenir

dan Prof. Dr. Puti Reno Raudhatuljannah Thaib (Upita Agustine)

tatkala sedang duduk ruang depan

dan berbincang-bincang tentang sastera,

tiba-tiba Darman Moenir menanyakan Mahzumi Dawood.

Maka saya katakan bahwa penyair itu telah berpulang ke-rahamatullah.

Mereka pun terkejut karena memang tidak tahu sama sekali.

Selanjutnya Darman menanyakan UU Hamidy bagaimana kabarnya.

Dan awal April 2013 terjadilah perbincangan jarak jauh melalui HP

antara saya dengan Prof. Dr. Muchtar Ahmad, M.Sc

tentang sosok UU Hamidy sebagai penulis dan budayawan Riau

yang pada 17 November 2013 genap berusia 70 tahun.

Lalu saya bebicara dengan beberapa penulis di luar Riau

tentang UU Hamidy, antara lain LK Ara di Aceh.

Kata LK Ara kepada saya, UU Hamidy itu

besar sekali jasanya kepada Aceh.

Selepas itu, maka saya pun mulai menuangkan tulisan

tentang UU Hamidy—

tentu sebagai pendapat dan pandangan saya pribadi sekali—

sebagai penulis terkemuka dan budayawan Riau.

Yang Kukenal

Dalam tahun 1986 saya baru mulai mengenal nama UU Hamidy. Kala itu saya masih duduk di kelas 2 (dua) Madrasah Aliah Negeri (MAN) Jl. Bandeng, Pekanbaru. Saya masih bersastra di sekolah. Selanjutnya, dalam tahun 1987—kalau tak silap—saya sudah mahasiswa—

tatkala saya mengikuti acara pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Koran kampus UNRI, Bahana Mahasiswa, barulah untuk pertama kali saya melihat langsung sosok pengarang bernama UU Hamidy. Beliau tampil bersama Ediruslan Pe Amanriza, Junaidi Mahbub, dan Arswendo Atmowiloto. Waktu itulah untuk pertama kali saya melihat bagaimana “garangnya” UU Hamidy di dalam meanggapi dan menjawab pertanyaan para peserta.

Meski begitu sama sekali tak terlihat pada sosoknya sebagai seorang yang garang dalam makna hakiki, malahan sebaliknya sekedar seloroh saja. Sesekali terlihat beliau tertawa lepas sehingga terdengar suaranya agak terbahak. Duduk di kursi sambil bersandar dan agak menyamping ke arah hadirin. Agak terkesan selambe saja. Tidak formal. Biasa-biasa saja. Lalu berakhir dengan senyum merekah yang sejatinya seketika menyengangkan hati para peserta. Suatu yang pasti, apa-apa yang dikatakannya dan sekalian penampilannya sungguh membakar anak muda sebagai peserta seusia saya kala itu untuk juga segera dapat menjadi seorang pengarang yang ulung dan tersohor. Kemampuannya memotivasi orang lain (generasi muda) agar menekuni dan mencintai dunia kalam alangkah luar biasanya!

Adalah sejak tahun 1985 saya sudah mulai menulis puisi, dan cerpen, di samping aktivitas saya sebagai pemain band (gitaris) di sekolah. Dalam tahun 1988 saya, mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Sultan Syarif Qasim (IAIN SUSQA) Pekanbaru. Sehingga tahun itu sudah ada 65 puisi saya yang menurut saya sebagai terpilih, dan saya susun dalam bentuk seperti sebuah buku. Tulisannya pakai mesin ketik. Kertas ukuran kuarto saya  potong jadi dua bagian. Terdapat puluhan halaman. Puisi-puisi itu setiap hari pergi kuliah saya bawa. Sesampai di kampus saya selalu melihat ke kantor dekan atau ruangan para dosen atau ruangan perpustakaan.

Untuk apa? Tak lain tak bukan mencari UU Hamidy. Untuk apa? Saya hendak sekali memperlihatkan dan menyerahkan (mengenong) “kumpulan” puisi hasil “cetakan” mesin ketik itu kepadanya. Dan sampailah suatu hari masih pagi, tatkala saya sedang berada di depan gedung perpustakaan, tiba-tiba terlihat orang yang sudah lama dicari-cari dan ditunggu-tunggu sedang berjalan di depan gedung perpustakaan menuju kantor dekan Fakultas Tarbiyah. Sejenak saya berpikir, apa saya tak mengaru kegiatannya? Ah, tak kesahlah. Mmm. Tak tempo. Saya pun berlari-lari anak menjurutnya. Seketika saya sudah tercegit (berada dan berdiri) di hadapannya. Dan tanpa banyak cakap saya pun sampaikan hajat saya. Beliau berhenti. Saya unjukkan “kumpulan puisi” cetak mesin ketik itu kepada beliau. Saya minta beliau membaca, menilai dan memberi pendapat kedapa saya atas puisi-puisi saya itu. Tersebab apa? Karena saya hendak menerbitkannya sehingga menjadi sebuah kumpulan puisi yang diterbitkan sebagaimana lazimnya sebuah buku kumpulan pusi. Saya berharap beliau mengucapkan kata-kata: sudah layak terbit atau sebaliknya, tak layak dan bahkan masih sebagai “sampah”.

UU Hamidy mulai membalik kumpulan puisi sederhana saya itu. Sehingga sampailah halaman terakhir. Lalu beliau unjukkan lagi kepada saya. Saya agak tak sedap hati, dan berpikir yang bukan-bukan. Bahkan dalam hati sempat terdetak dan merutuk: “apa begini sikap seorang pengarang yang sudah punya nama?!” Tapi segera saya sambut kumpulan puisi saya itu. Saya tatap wajah dan mata beliau. Beliau tersenyum sambil membetulkan kaca mata. Tersenyum. Lalu berujar bahwa silahkan saja diterbitkan. Jangan ragu. Nanti kalau sudah terbit, biarlah orang lain sebagai pembaca yang berpendapat tentang puisi-puisi tersebut. Orang mau bilang apa, silakan, yang penting ada keberanian menulis dan menerbitkannya. “Maaf, Pak UU, saya sudah berburuk sangka,” kata saya dalam hati. Kami saling tatap, tersenyum dan beliau pun beranjak dan menjauh dari saya. Maka saya pun ke ruangan perkuliahan. Sebuah pertemuan yang penuh berkah dan alangkah mengesankan!

Adalah selepas itu, setiap ada waktu senggang maka saya selalu membaca ulang puisi-puisi saya tersebut. Sementara itu puisi-puisi baru pun terus saya tuliskan, sehingga jumlah puisi saya sampai ratusan. Sehingga dalam tahun 1989 saya berjumpa dengan Sutrianto. Saya selalu datang ke rumahnya di Jl. Cempedak. Sampailah suatu waktu, saya serahkan ratusan puisi saya itu kepadanya. Lalu dipilihnya sebanyak 66 buah, dicetak dan ditata-letakkan sebagai draf sebuah buku kumpulan puisi. Selepas itu, akhir 1990 Dasri Al Mubary sebagai pimpinan Bengkel Teater Bersama (BTB) Pekanbaru, merancang kulit buku kumpulan puisi tersebut. Maka pada April 1991, terbitlah kumpulan puisi saya yang sulung dengan judul 66 MENGUAK, dan diluncurkan di Taman Budaya Riau, Pekanbaru dalam acara Tadarus Puisi, Bengkel Teater Bersama Pekanbaru, dalam tahun  itu juga. Malam itu saya terkesan sekali, karena penyair  “Burung Waktu” Idrus Tintin membaca puisi saya untuk pertama kali di depan khalayak ramai.

Buku kumpulan puisi itu, antara lain saya serahkan kepada UU. Hamidy—cuma saya lupa apakah saya serahkan pada malam Tadarus Puisi atau waktu lain—sehingga sampailah pada Juli 1992 saya baca puisi tunggal dari kumpulan puisi sulung saya itu di Teater Arena, Komplek Dang Merdu, Pekanbaru. Sebagai pengulas tunggal adalah Drs. Al Azhar dengan pembawa acara Idrus Tintin. Dan sehari selepas itu, sebuah koran terkemuka terbitan Pekanbaru menurunkan berita sebagai mengkritik tampilan saya membaca puisi, yang dikatakannya teaterikal, dramatis, tetapi dalam pembacaannya kehilangan tenaga! Sayang sekali ulasan Al Azhar secara panjang lebar, pendapat Tabrani Rab dan lainnya tentang puisi-puisi saya tak sekatapun dikutif oleh wartawan koran itu. Pahamlah saya karena ianya dikenal sebagai penyair juga. Saya maklum karena dunia kepengarangan di Pekanbaru adalah “laman” yang “keras” untuk berlaga menjadi pengarang. Bagi saya tak apa-apa karena hal itu sangat melecut saya untuk semakin baik lagi sehingga nadau menjadi penyair.

Apa kaitannya lagi dengan UU Hamidy? Sangat berkait. Beliau yang saya kenal adalah seorang pengarang, penulis, cendekiawan “Melayu”  Riau yang sangat hirau dengan karya-karya pengarang berusia muda. Dan pada 9 Mai 1994 saya mendapatkan sebuah buku dari seorang teman di UNRI Pekanbaru. Buku itu berjudul Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Daerah Riau yang ditulis oleh UU Hamidy (Unri Press, Pekanbaru, 1994). Teman saya di UNRI itu mengatakan kepada saya agar jangan lupa membaca halaman 177-186, Bab XI yang berjudul Menguak Lintasan Metapor dalam Kumpulan Puisi Abdul Kadir Ibrahim. Sehingga dengan itu, saya pun berkesimpulan bahwa UU Hamidy sangat hirau dengan karya-karya anak negeri, tak terkecuali saya. Dan bagi saya beliau dikenal sebagai seorang peneroka terkemuka dan handal terhadap karya-karya sastra, khususnya karya sastra anak jati Negeri Riau.

Adalah sehingga tahun 1995 saya masih selalu berjumpa dengan UU Hamidy. Namun selepas itu lama sekali tidak bersua, karena saya sudah menetap di Midai-Natuna selama 3 tahun dan kemudian di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Barulah dalam tahun 2009 saya ke Pekanbaru dan dengan sengaja menyempatkan diri ke rumah beliau di Jl. Paus. Saya menyerahkan buku kumpulan puisi saya yang berjudul negeri airmata (Unri Press, Pekanbaru, 2004) dan sebuah buku tentang saya Abdul Kadir Ibrahim Penyair Cakrawala Sastra Indonesia (Penyelenggara: Joni Ariadinata, Pengantar: Jamal D. Rahman, Akar Indonesia, Yogyakarta, 2008). Di beranda rumah beliau, saya dengannya berbincang-bincang yang tentu tak jauh dari perkara kalam, tulis-menulis, mengarang. Dan ada yang sangat berkesan di hati saya, ketika beliau mengatakan: Kib, engkau itu pengarang yang tidak bebal. Sedikit kritikan saya terhadap puisi-puisi kamu yang pernah saya tulis pertama sekali di harian Riau Pos dan menjadi bagian isi buku yang terbit tahun 1994, ternyata dapat kau tangkap dan pahami dengan baik dan rendah hati. Sehingga dengan itu kau akhirnya berhasil menjadi pengarang yang diperhitungkan di pentas sastra nasional, Indonesia. Maka untuk waktu sekarang, kritik saya dulu itu harus dicabut, karena sudah tidak sesuai lagi dengan kepengaranganmu saat ini. Maksudnya kalau tidak dicabut maka saya yang akan malu dengan penulis-penulis lain yang ternama yang sudah berpandapat bernas tentang karya-karya Akib. Bapak senang dan bersyukur kamu tidak bebal, behasil dan melintas batas sehingga menjadi penyair yang diperhitungkan di pentas kepenyairan nasional. Mendengar itu, saya pun mengucapkan terimakasih. Selebihnya, sungguh saya bahagia sekali! Dalam hati saya berkata: “alangkah besar jasa bapak dalam menanam pohon kepengarangan di Riau!”

Dalam hati saya terus merayau-rayau, dan merasakan benar, bahwa karena ikhtiar UU Hamidy—mohon maaf jika ada yang tak setuju, ini sekedar pendapat pribadi saya, meskipun saya tidak pernah menjadi mahasiswanya—muncul seleret pengarang di Riau yang dapat diumpakan sebagai cabang, dahan dan ranting-ranting dari sebuah pohon yang subur dan rindang. Dunia kalam, kepengarangan dan penerbitan buku di tanah Melayu Riau menjadi hidup dan bergairah yang senyatanya bersebab UU Hamidy! Seketika saya lagi terlamun seperti itu, tiba-tiba Hp saya berdering. Rupanya ajudan Walikota Tanjungpinang mengatakan bahwa Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A. Manan sudah meluncur ke lokasi acara di Tangkerang. Tentu saya segera bergegas agar dapat sampai terlebih dahulu di tempat acara itu. Dan akhirnya saya pun mohon diri, pamit ke suatu acara. UU Hamidy melepas kepergian saya dengan senyum dan menjawab salam.

Dan selepas itu barulah pada bulan Juli 2010 saya berjumpa lagi dengan beliau di Kota Tanjungpinang. Suatu pertemuan yang sungguh mengesankan. Beliau di Tanjungpinang diundang oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bekerjasama dengan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Kepri, sebagai pemakalah dalam Seminar “Prasasti Bahasa Melayu Kepulauan Riau”. Malam hari kami pergi makan bersama. Dan esoknya dalam seminar, tatkala beliau menyampaikan makalah, saya tampil sebagai moderatornya. Dua pemakalah sesi itu dua orang dari Malaysia. Selepas seminar, saya, UU Hamidy dan Abdul Malik pun berbincang-bincang di suatu tempat, di Tanjungpinang Kota Gurindam Negeri Pantun. Dan beberapa tahun belakangan, kabar beliau di Pekanbaru selalu saya tanyakan dari putrinya, Purnimasari.

Kalamkan Budaya Melayu

Kepada cedikiawan UU Hamidy tak salahlah bila dinobatkan sebagai budayawan Melayu terkemuka di tanah rantau Melayu. Kepedulian, ketunakan dan kecintaannya terhadap budaya Melayu sudah mendarah-daging dan berurat-nadi sehingga melebihi sum-sum dalam diri dan krpribadiannya. Sejak awal-awal lagi ia telah menulis dan mengalamkan apa-apa saja yang terbabit dengan budaya (lebih luas lagi kebudayaan) Melayu. Ada beberapa buku yang ditulisnya dalam alam dunia Melayu antara lain Kedudukan Kebudayaan Melayu di Riau (Bumi Pustaka, Pekanbaru, 1982), Kebudayaan sebagai Amanah Tuhan (UIR Press, Pekanbaru, 1989), Masyarakat dan Kebudayaan di Daerah Riau (Zamrad, Pekanbaru, 1990), dan Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau (Bilik Kreatif Press, Pekanbaru, 2009).

Dari buku-bukunya berkaitan dengan budaya (kebudayaan) Melayu itu dapat kita tangkap dan pahamkan bahaimana dunia Melayu dalam watak UU. Hamidy. Dengan watak Melayu itulah dia mencurahkan dan mendedikasikan kemampuan dirinya dan intelektualnya memberikan pengabdian kepada masyarakat dan amal shaleh kepada Allah SWT. Menjadi terang dan nyatalah budaya (dunia) Melayu tersebab dikalamkan oleh UU Hamidy baik dalam buku, makalah atau secara lisan di dalam pertemuan seminar, diskusi, perkuliahan ataupun percakapan, perbualan (bincang-bincang) biasa. Tokoh Melayu kita ini berpendapat bahwa sebagai pucuk tinggi daripada apa-apa terbuhul dan tersimpai dalam budaya (dunia) Melayu adalah agung di dalam napas kehidupan manusia. Tersebab itu manusia Melayu mesti dikalamkan dan niscayalah didedahkan kepada sesiapa saja dan di mana-mana dunia pula. Dunia Melayu sempurna di dalam kebudayaannya. Menurutnya capaian yang dilakukan oleh Kerajaan Riau-Lingga-johor dan Pahang, yang utamanya dua abad sebelum abad ke-21, dalam bidang kebudayaan dan tamadun Melayu, sungguh melampaui kebudayaan manapun di Nusantara.

Kata UU Hamidy dalam Keududukan Kebudayaan Melayu di Riau, dalam priode Kerajaan Riau-Lingga terutama pada abad ke-19 dan ke-20 M, kita dapat menjumpai suatu perhatian yang amat  istimewa terhadap bahasa dan kebudayaan Melayu. Sepanjang pengetahuan kita belum ada satu kerajaan di Nusantara ini yang begitu jauh berbuat terhadap bahasa dan kebudayaannya seperti yang dilakukan oleh kerajaan ini. Kerajaan Riau-Lingga[1] boleh dikatakan aspek kebudayaan dalam daerah kawasannya, daripada masalah perluasan kekuasaan (1982:11). Capaian yang tinggi kebudayaan Melayu pada masa Kerajaan Riau-Lingga itu, tentulah amat melekat dan terbabit langsung dengan sikap, kepribadian orang Melayu yang tidak panatik dengan sukunya sendiri. Bagi orang Melayu hidup bersaudara dengan sesiapa pun dalam suku bangsa yang bagaimanapun, sebagai suatu keniscayaan. Karena hidup bagi orang Melayu adalah rahmatal lil alamin dan berakhlakul karimah. Dalam kaitan ini maka persaudaraan sejagad yang lebih ditonjolkan di kedepankan. Dalam kaitan ini UU Hamidy telah memberi tahu kepada kita.       Melalui bukunya Masyarakat dan Kebudayaan di daerah Riau, dijelaskan bahwa masyarakat Melayu di rantau ini mempunyai sikap dan tingkahlaku tethadap suku bangsa dan etnik lainnya dalam kehidupan social dan kebudayaan. Bagaimana pihak Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang menerima kehadiran bangsawan Bugis di kerajaan Melayu itu cukup menarik. Setelah melalui pergaulan sosial begitu rupa, mereka tidak hanya sekedar memperoleh kelapangan kehidupan dalam arti yang praktis saja, tetapi juga hal-hal lain, sebagaimana layaknya mereka di negeri asalnya. Itulah sebabnya pihak bangsawan Bugis itu telah diberi kedudukan sebagai Yang Dipertuan Muda Riau—dan pihak keturunan Melayu—dengan kedudukan menjdi Yang Dipertuan Besar Riau. Namun setelah terjadi pembauran melalui nikah kawin antara pihak Bugis dengan kaum kerabat kerajaan Melayu, maka keturunan mereka telah tampil dengan cita Melayu (1990:20-21).

Masih dalam buku yang sama Hamidy menegaskan bagaimana kepribadian orang Melayu kepada suku-bangsa apapun dari belahan dunia manapun.  Meskipun orang Melayu di Riau mempunyai emosi keagamaan yang cukup tinggi (paling kurang nomor tiga setelah Aceh dan Bugis) tetapi ternyata tidak pernah menjadikan agama itu sebagai pemisah dalam pergaulan sosial, dengan umat yang lain yang non-Islam. Lebih dari itu tidak pernah pula mereka memaksakan agama Islam kepada mssyarakat atau orang lain yang non-Islam, yang datang merantau atau bermukim di kampung-kampung mereka. Selama orang Melayu itu aman menjalankan agamanya dan bisa memperoleh perlakuan yang wajar dalam pergaulan sosial dengan pihak yang non-Islam itu, nisacaya masyarakat atau orang Melayu itu bertahan mendiami tempat tersebut (1990:22-23).

Hamidy mengaitkan kebudayaan Melayu itu dengan anugerah Allah SWT. Dikatakannya sebagai amanah Tuhan. Karenanya mestilah memberi manfaat dan faedah yang sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya kepada perintah Allah, kebaikan manusia dan alam semesta. Karena kebudayaan itupun akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Tersebab anugerah Tuhanlah kebudayaan menjadi “alat” bagi manusia Melayu untuk memartabatkan dirinya. Kata Hamidy dalam Kebudayaan sebagai Amanah Tuhan, manusia baru bisa menjadi makhluk yang baik dan mulia apabila potensi budaya yang diberikan oleh Tuhan kepadanya digunakan untuk melaksanakan perintah Tuhan (wahyu) sehingga kretivitas budaya  menjadi suatu proes realisasi daripada kebenaran Ilahi. Kelebihan manusia yang prinsip daripada hewan, rupanya terletak dalam masalah wahyu itu. Manusia disebut sebagai makhluk mulia, karena manusia merupakan makhluk yang mendapat kepercayaan untuk menerima wahyu. Untuk itulah Tuhan memberi potensi  budaya kedapa manusia, agar dengan potensi itu manusia dapat melaksanakan perintah Tuhan sebagai kebenaran yang sesungguhnya (1989:11).

Berkaitan dengan seneraian di atas,  ada baiknya kita hidangkan pula pendapat Hamidy mengenai orang Melayu terhadap pimpinan atau kepala pemerintahan. Ini penting maknanya karena tersebab adanya keharmonian antara orang Melayu sebagai rakyat dengan pimpinannyalah sehingga kebudayaan dapat diujudkan sebagai kelengkapan manusia di dalam memajukan kehidupannya. Pandangan orang Melayu pada masa lampau terhadap kerajaan dan masa kini terhadap kepala negara, kepala daerah atau ketua dewan, sama saja. Bahwa menurutnya dalam buku Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau, orang Melayu di Riau memandang kerajaan itu adalah alat untuk melindungi yang lemah daripada penindasan oleh yang kuat. Ada tiga macam orang yang lemah. Pertama, lemah dalam status sosial, ditindas oleh yang berkuasa. Kedua, lemah dalam ekonomi, ditindas oleh yang kaya. Ketiga, lemah fisik, ditindas oleh orang kuat (bagak). Dengan demikian kekuasaan hendaklah digunakan untuk menegakkan yang benar serta menghalangi yang batil. Ini berarti kepala negara (kepala derah, Pen.) hendaklah dalam rangka beramal kebaikan melaksanakan perintah-Nya 2009:10).

Sanggamkan Bahasa Melayu untuk Bahasa Indonesia

Dalam usia relative muda lagi, UU Hamidy sudah mempertegas dirinya sebagai cenddikia yang hirau sepenuhnya dengan alat bahasa (kalam dan tulis) kepada bahasa Melayu Riau (Riau-Lingga-Johor dan Pahang) yang terbina sehingga kemudian menjadi bahasa Indonesia.[2] Dalam tahun 1972 Hamidy melahirkan karya dalam bentuk buku yang berjudul Bahasa Melayu Riau. Masih kaitannya dengan bahasa Melayu, terbit beberapa bukunya lagi antara lain  Pengarang Melayu dan Abdullah Munsyi (1981), Riau sebagai Pusat bahasa dan Kebudayaan Melayu (1983), Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Daerah Riau (1994), Dari bahasa Melayu sampai Bahasa Indonesia (1995), dan Teks dan Pengarang di Riau (2003).

Dalam buku Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Daerah Riau, Hamidy berpendapat bahasa Melayu telah melingkupi kehidupan penduduk Nusantara. Daerah pesisir pantai, kota pelabuhan, aliran sungai dan pulau-pulau yang disinggahi oleh pelaut dan pedagang, telah memakai bahasa Melayu. Setelah kawasan itu terpecah menjadi beberapa geografis polotik yang melahirkan negara dan bangsa Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam, bahasa Melayu tetap terpelihara oleh anak negeri. Tetapi oleh aspirasi politik dan haluan negara yang relative berbeda satu sama lain, maka bahasa Melayu pada tiap negara juga telah diwarnai oleh aspek politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya masing-masing bangsa atau negara tersebut. Perbedaan itu juga ada hubungannya dengan sejarah kolonial yang pernah menguasai masing-masing bahasa itu. Maka setelah masing-masing dunia Melayu itu mendapat kemerdekaan, mereka juga memberi citra terhadap bahasa Melayu yang dipakainya (1994:1).

Menurut UU Hamidy ada beberapa logat bahasa Melayu, dan yang dikatakan sebagai logat Riau adalah bahasa Melayu tinggi. Hampir tak dapat disangkal lagi bahasa Melayu tinggi telah berpijak kepada logat dialek Melayu yang telah disusun oleh pengarang-pengarang dari Kerajaan Riau-Lingga. Bahasa ini semakin terpelihara baik oleh sekolah-sekolah bumi putera dalam zaman Belanda. Inilah yang telah melahirkan para pengarang zaman Balai Pustaka dalam tahun 1920-an. Dari bidang pendidikan bahasa Melayu dengan mudah pindah dahan kepada bidang politik. Bahasa yang telah dikuasai oleh kalangan terpelajar bangsa Indonesia (bumi putera) dipakai pula sebagai alat perjuangan. Hasilnya cukup menakjubkan. Dengan bahasa itu timbul rasa persatuan yang kokoh, sebab bahasa itu dipandang sebagai symbol bangsa sebagai antitesa terhadap Belanda sebagai symbol penjajahan. Karena itulah bahasa ini dirasakan sebagai milik bangsa Indonesia, sehingga namanya diubah menjadi bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Jalan sejarah yang demikian telah menjelaskan kepada kita bagaimana arti bahasa Melayu yang dibina di Riau dalam perjalanan kebahasaan di Indonesia (1994:4-5).

Terkait dengan penjelasan di atas, tentulah nyata sudah bagaimana pertubuh-kembangan bahasa Melayu yang dibina di Riau-Lingga kemudian menjadi bahasa Indonesia itu. Menurut Hamidy dalam bukunya Dari Bahasa Melayu sampai Bahasa Indonesia, secara kuantitatif bahasa Indonesia itu dapat dikatakan bahasa Melayu yang telah menyerap (diperkaya) berbagai bahasa atau dialek, di antaranya yang terpenting ialah bahasa Sansikerta, Arab, Cina, Portugis, Belanda dan Inggeris serta berbagai bahasa daerah di Indonesia di antaranya bahasa Jawa. Pada umumnya yang diserap dari bahasa asing dan bahasa daerah itu ialah perbendaharaan kata, bukan sistem bahasanya. Sebab itu dengan menyerap sejumlah pembendaharaan kata dari berbagai bahasa tersebut, bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia itu menjadi kaya pembendaharaan bahasanya (2005:7).

Dalam buku yang sama Hamidy mengingatkan sesiapa saja sebagai bangsa Indonesia, bahwa bagaimanapun juga pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia, namun seyogiyanya bahasa ini dapat mempertahankan  sistemnya yang sederhana yang telah diwarisinya dari bahasa Melayu. Riwayatnya yang besaral dari bahasa Melayu sesungguhnya dapat menjadi peluang besar baginya untuk menjdi satu bahasa yang dominan di rantau Asia Tenggara. Hampir tiap negara di Asia Tenggara mempunyai pendukung bahasa Melayu. Sebab itu jika bahasa Indonesia dipelihara begitu rupa dengan berpijak kepada prinsip-prinsip pokok bahasa Melayu sebagai akarnya, niscaya akan semakin luas jangkauannya dalam pergaulan sosial dan budaya di kaswasan ini. Hal itu hendaklah didukung oleh peningkatan kualitas budaya bangsa Indonesia serta berbagai media, baik cetak maupun elektronik (2005:25).

Pada bagian ini, tak salahlah pula bila kita pandang dan berpendapat bahwa UU Hamidy adalah seorang cendikiawan Melayu yang telah secara nyata menggaungkan melalui kalam tentang bagaimana puncak sebenarnya bahasa Melayu yang menjadi bahasa Indonesia itu. Karenanya patutlah kepadanya kita katakana sebagai penulis (tokoh) di Riau yang amat nyata keperduliannya terhadap pertumbuh-kembangan bahasa Melayu dan sekaligus bahasa Indonesia. Karya-karyanya menyangkut bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan ulasan tentang karya-karya penulis Riau sehingga dewasa ini telah menjadi prasasti tersendiri di dalam kebesaran bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan tamadun Melayu. UU Hamidy telah berjati-diri dan menamam budi untuk kebudayaan negeri.

Anjungkan Generasi Pengarang

Saya berpendapat, munculnya dan sehingga besarnya pengarang-pengarang Riau selepas generasi Rida K. Liamsi, Hasan Junus, Sutardji Calzoum Bachri, BM. Syamsuddin, Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, dan Edisruslan Pe Amanriza tak terlepas dari peran (akal-budi) yang diberikan oleh UU Hamidy, baik secara langsung ataupun tidak. Keberadaan UU Hamidi di dalam menulis dan menerbitkan sejumlah buku, menyampaikan kuliah dan membentangkan makalah-makalah di dalam berbagai seminar ataupun diskusi secara berkait-erat telah mendorong, memotivasi dan menyemangati munculnya penulis-penulis muda di Riau. Pada perjalanan selanjutnya penulis-penulis itupun semakin tumbuh, dan berkembang secara baik yang karya-karyanya sudahpun pula dikenal di Riau. Mereka terus berkarya, berkembang ,berjati-diri dan berikhtiar untuk mendapat tempat di pentas sastra nasional. Adalah pada akhirnya karya-karya mereka pun menjadi dikenal di pentas kepengarangan Indonesia dan bahkan dunia internasional.

Sejak tahun 1980-an UU Hamidy sudah meneroka karya-karya pengarang Riau. Mereka antara lain Raja Ali Haji dan lain-lain (Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu, Bumi Pustaka, Pekanbaru, 1981). Pengarang berikutnya yang diteroka oleh UU Hamidy antara lain Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Kelana, Raja Zaleha, Abu Muhammad Adnan, dan Aisyah Sulaiman (Pengarang Melayu dan Abdullah Munsyi Abad ke-19, Balai Bahasa, Jakarta, 1981). Selanjutnya tentang karya-karya Soeman Hs, Sariamin Ismail, Idrus Tintin, Ediruslan Pe Amanriza, Abdul Kadir Ibrahim (Bahasa Melayu dan Kreativitas Sastra di Daerah Riau, Unri Press, Pekanbaru, 1994). Terokaannya terhadap karya-karya pengarang di Riau terus berlanjut, mengulas karya-karya antara lain Dasri al Mubary, Eddy Ahmad RM, Tien Marni, Taufik Ikram Jamil dan lain sebagainya (Teks dan Pengarang di Riau, Unri Press, Pekanbaru 1998). Selanjutnya mengulas tentang karya Samson Rambah Pasir, Abel Tasman, Rida K. Liamsi, Kazzaini Ks, dan lain pengarang lainnya (Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau, Bilik Kreatif Press, Pekanbaru, 2003). Kemudian mengulas karya Rida K. Liamsi (Dunia Melayu dalam Novel Bulang Cahaya dan Kumpulan Sajak Tempuling Rida K. Liamsi, Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2008).

Dalam buku yang disebutkan terakhir, UU Hamidy menjelaskan kritik sastra di Riau dengan pancang kajiannya telah mendedahkan tiga gelombang besar pengarang Riau. Mulai dari gelombang pertama yakni Raja Ali Haji, para pengarang Rusydiah Klab, Tuan Guru Abdurrahman Siddik, Soeman Hs dan Sariamin Ismail, disusul oleh gelombang kedua antara lain: Tenas Effendy, Idrus Tintin, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Edirsulan Pe Amanriza, BM Saymsuddin, Sodarno Mahyuddin, Hasan Junus, dan Rida K Liamsi, sampai gelombang ketiga antara lain Taufik Ikram Jamil, Eddy Ahmad RM, Kazzaini Ks, Husnu Abadi, Fakhrunnas MA Jabbar, Samson Rambah Pasir, Mostamir Thalib, Abdul Kadir Ibrahim, Tien Marni, Abel Tasman, Musa Ismail, M Badri, Marhalim Zaini dan Hary B Kori’un[3]. Sebagian besar karya pengarang ini telah dibicarakan dalam kajian di Riau (2008:3-7).

Dengan demikian, tegas UU Hamidy, bahwa kepengarangan di Riau telah memperlihatkan betapa Riau punya potensi pengarang yang cukup handal, di samping memberi bukti bahwa Riau punya sumber bahasa dan budaya yang melimpah. Hasil kembaran pengarang dan sumber budaya itu semakin kokoh menampilkan Riau sebagai pusat dan budaya Melayu. Lalu dengan memperhatikan kenyataan ini, sebenarnya ke depan, Riau sudah punya jalan yang lapang memelihara dan mengembangkan budaya Melayu (2008:7).

Pada akhirnya kita patut mengatakan bahwa bagaimanapun alasannya yang diberikan, namun niscayalah bersebab UU Hamidy telah muncul sejumlah pengarang di Riau. Ketika mereka muncul sebagai pengarang, maka karya-karyanya pula diteroka, dikaji, ditelaah oleh UU Hamidy. Para pengarang itu niscayalah pula mendapatkan kekuatan tambahan untuk semakin mengukuhkan karya-karyanya di bentangan kepengarangan Riau, dan bahkan Indonesia. Maka pada akhirnya setelah melalui pergulatan dan perjalanan panjang, berhempas-pulas melahirkan karya-karya bernas, dan terbaik, maka mereka pun muncul dan mendapat tempat di pentas kepengaran (sastrawan) nasional (Indonesia) dan bahkan dunia. Sehingga demikian, menjadi jelas dan pahamlah kita di mana letak sebenarnya kedudukan UU Hamidy dalam pertumbuh-kembangan kengarangan di Riau. Dia adalah pembuka dan penunjuk jalan bagi para pengarang ke mana hala karangan akan dirempuhkan dan disampaikan. UU Hamidy niscayalah telah secara nyata berjasa-budi bagi mengantar memuncaknya karya-karya kepengarangan di Riau untuk generasi selepas Raja Ali Haji.

Memuncak Kalam

Pada akhirnya kita dapat membaca, memahami dan memaknai bahwa UU Hamidy menulis bukan sekedar untuk duniawi, melainkan untuk ukhrowi. Boleh dikatakan dari sekian banyak makalah, dan buku yang ditulisnya, pada intinya bermuara dan berpunca kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, Allah SWT. Menurutnya seluruh potensi budaya merupakan pemberian Tuhan, yang bila tidak digunakan untuk melaksanakan kebajikan, maka tidaklah membawa makna yang hakiki. Ini jelas sekali dapat dibaca dari karya-karyanya, terutama dalam Kebudayaan sebagai Amanah Tuhan (Uir Press, Pekanbaru, 1989).

Menurut UU Hamidy potensi budaya telah dikembangkan oleh manusia sesuai dengan kemauan bebasnya. Maka timbullah berbagai arah yang ditempuhnya. Potensi budaya itu telah melahirkan berbagai cabang budaya, seperti agama budaya, filsafat, politik, ekonomi, ilmu dan teknologi serta seni. Tapi bagimanapun juga perkembangan kebudayaan itu, namun manusia rupanya tidak dapat memperoleh martabat yang tinggi, hanya dengan potensi budaya dan ujud budayanya. Kebudayaan yang tampil dengan kemauan bebas itu telah menimbulkan wajah yang dasa muka (bermacam ujud dan sifat) yang secara sederhana dapat dilihat dalam dua wajah atau penampilan.

Dalam kaitan ini, jelas UU Hamidy, maka pertama kebudayaan tampil dengan wajah yang mempunyai  temdensi kepada kebaikan. Dalam hal ini bisa kita merujuk kepada berbagai norma-norma yang dibuat oleh manusia untuk mengatur pergaulan sosial. Kedua, kebudayaan mempunyai tendensi kepada kejahatan. Yang terakhir ini tampak dalam berbagai ragam tindakan yang melanggar nilai-nilai yang ada dalam norma, berbagai pola tingkahlaku yang memuja kepentingan nafsu yang rendah dan sebagainya. Sehingga dengan demikian tatkala berhadapan dengan dua wajah budaya tersebut, maka terhadap manusia telah timbul paling kurang 3 macam tingkahlaku budaya: manusia mengikuti dirinya sendiri; manusia melawan dirinya sendiri; dan manusia “melawan” Tuhannya.

Dari penjelasan di atas UU Hamidy menegaskan bahwa betapa arti daripada Tuhan terhadap martabat manusia. Rupanya manusia baru bisa menjadi makhluk yang baik dan mulia apabila potensi budaya yang diberikan oleh Tuhan  kepadanya digunakan untuk melaksanakan perintah Tuhan (wahyu) sehingga kreativitas budaya menjadi suatu proses realisasi daripada kebenaran Ilahi. Kelebihan manusia yang prinsip daripada hewan, rupanya terletak dalam masalah wahyu itu. Manusia disebut sebagai makhluk mulia, karena manusia merupakan makhluk yang mendapat kepercayaan untuk menerima wahyu. Untuk itulah Tuhan memberikan potensi budaya kepada manusia, agar dengan potensi itu manusia dapat melaksanakan perintah Tuhan sebagai kebenaran yang sesungguhnya (1989:7-11).

Dengan demikian menjadi jelaslah bagi kita, UU Hamidy telah menulis tentang berbagai hal yang menyangkut kebudayaan, khususnya kebudayaan Melayu yang dalam perkara ini terlebih khas lagi bahasa dan telaahan karya sastra, sebagai melaksanakan (mengujudkan) potensi budaya yang baik. Ia telah memberi makna sebenarnya kedudukan sebagai pengarang. Katanya dalam buku Jagad Melayu dalam Lintasan di Riau, seorang pengarang menjadi pengarang tentulah akan ditapis oleh waktu. Selama dia setia menampilkan diri senagai pengarang, maka tentu dia akan dipandang sebagai pengarang. Dan pengarang adalah cara menampilkan diri yang terhormat (Bilik Kreativitas Press, Pekanbaru,2009:180).

 Pada ujung ikhtiar, aktivitas dan kreativitas kalamnya itu adalah untuk mensyiarkan ajaran (agama) Allah, memberi kebaikan kepada manusia dan mendapat ganjaran pahala (kemuliaan dan kemenangan) di sisi Tuhan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bahwa sekalin kalam yang didedahkan oleh budayawan Melayu ini dalam bahan kuliah, diskusi, risalah, makalah, dan buku semata-mata sebagai mengujudkan jati-diri manusia (khususnya dirinya sendiri) yang berakal-budi, dan rahmatal lil ‘alamin. Pada bagian lainnya sebagai jalan dan cara mengabdi, memuja, dan mengagungkan Allah SWT., sehingga harapan yang paling puncak mendapat imbalan pahala sehingga nyata dan nikmatlah adanya dirasakan oleh jiwa-raga kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Adz Dzariat 56: “Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”.

 

Simpai

Pada akhirnya mengerti dan pahamlah saya, bahwa sesungguhnya apa-apa yang sudah saya tulis ini—yang sebagian besar menampilkan kembali tulisan UU Hamidy—mungkin tak dapat dikatakan apa yang saya tulis itu sebagai sebuah pikiran bernas. Tersebab itu atas segala kelemahan, kesalahan dan kesilapannya sebagai hamba yang dhaif, maka kepada sesiapa saja dan teristimewa kepada UU Hamidy saya haturkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Orang tertawa lepaskan gundah/ di dalam taman bunga mengharumkan/ atas segala silaf dan salah/ segenap jiwa mohon dimaafkan.

Bagi UU Hamidy dan niscayalah sesiapapun—khususnya Muslimin dan Muslimah—menulis atau menjadi pengarang sebagai ciri orang berilmu dan memberi manfaat atas kepandaiannya kepada khalayak ramai. Lebih dalam dan menukik lagi sebagai dalam upaya pengabdian (beramal shaleh) kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Hasil yang diharapkan bukan sekedar untuk dunia tetapi juga untuk kematian dan akhirat. Dalam kalimat terakhir ini kita tutup dengan Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji: Kasihkan orang yang berilmu/ Tanda rahmat atas dirimu// Hormat orang yang pandai/ Tanda mengenal kasa dan cindai// Ingatkan dirinya mati/ Itulah asal berbuat bakti// Akhirat itu terlalu nyata/ Kepada hati yang tidak buta. Sekian dan wassalam…

Tanjungpinang, Kepulauan Riau,

29 Jumadil Awal 1432 H/ 10 April 2013


                [1] Tapak kegemilangan dan kecemerlangan kebudayaan dan tamadun Melayu di Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dibangun dan berlangsung ketika tampuk (peneraju) kerajaan diamanahkan kepada Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Ri’ayat Syah (berkuasa selama 1761-1812). Beliaulah yang membuka Daik-Lingga menjadi kota dan membangun Pulau Penyengat sebagai sebuah kota yang lengkap dengan segala pasilitasnya, sehingga membuka laluan dan merecuplah aktivitas dan kreativitas kepengarangan sehingga muncul nama besar dalam dunia kepengarangan Nusantara, yakni Raja Ali Haji yang tak lain tak bukan adalah Bapak Bahasa Indonesia dan sekaligus Pahlawan Nasional Bahasa Indonesia. Dalam kaitan itu, pantaslah atas diri Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Ri’ayat Syah (Sultan Mahmud Syah III) dikatakan sebagai Bapak Tamadun Melayu dan Pahlawan Nasional karena telah juga merontokkan kekuasaan, dan kekuatan Belanda dan Inggris!

[2] Lihat Abdul Kadir Ibrahim: Tanah Air Bahasa Indonesia, Komodo Books, Depok, 2013.

                [3] Tentang peran UU Hamidy melalui karya tulisnya dalam mengangkat (mempublikasikan dan menginformasikan) pengarang (sastrawan) di Riau dan karya-karyanya sehingga dapat dibaca dan diketahui orang banyak, juga didedahkannya dalam buku Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau. Hamidy menyebutnya sebagai lintasan pengarang—yang generasi pengarang itu terus menggelegak—sehingga generasi Rida K Liamsi (Iskandar Leo). Generasi berikutnya adalah Dasri al Mubari dan Taufik Ikram Jamil—yang berlanjut sampai kepada Eddy Ahmad RM dan generasi Samson Rambah Pasir, dan Abdul Kadir Ibrahim. Masih terus berlanjut dengan nama Hoesnizar Hood, Hang Kafrawi dan Muparsaulian. Pengarang lainnya tentu akan menyusul dengan karya-karyanya masing-masing. (Bilik Kreatif Press, Pekanbaru, 2009:178-180).

Andika Cahaya “Saluangkan” Korupsi

Luahan Darman Moenir dari Minangkabau

 

Oleh: Abdul Kadir Ibrahim

Kalam Pembuka

Ketika membaca novel Andika Cahaya karya Darman Moenir, sastrawan nasional (Indonesia) anak negeri Bundo Kanduang, Sumatera Barat, segera dalam pikiran kita (pembaca) bertanya-tanya, ini cerita kejadiannya di Padang, Sumatera Barat, tanah Bundo Kanduang tetapi apakah nama-nama sebagai pelaku atau yang terlibat di dalam serangkaian kisah, riwayat, cerita adalah sebagai bersuku Minang atau bersuku apa? Lihatlah, nama Kepala Museum: Jotambi dan Dra. Lulu Permata Sari. Ada nama Kuin, Momon, Sap, Dipo, Menon, Panjul, Bagio, Isyaf dan Oyon. Apakah dewasa ini orang Minangkabau sudah juga mempunyai (bernama) seperti nama-nama ini? Saya belum dapat data sebenarnya. -baca selengkapnya

Bulang Cahaya Sembilu Cinta

Novel Rida K Liamsi “Bandar Estetika Bahasa”

 

 

Oleh: Drs. Abdul Kadir Ibrahim, MT

(Sastrawan Nasional-Indonesia, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau, Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dan kini Staf Ahli Walikota Tanjungpinang. Sempena ulang tahun ke-46, tahun 2012 akan meluncurkan delapan judul buku:3 Kumpulan Cerpen: “Santet Tujuh Pulau”, “Tanjung Perempuan”, dan “Karpet Merah Wakil Presiden. 1 Novel: “Cinta di Pucuk Gelombang Memburu Kasih Perempuan Sampan”, tiga ulasan: “Dari Raja Ali Haji sampai Fluralisme Indonesia”, “Aisyah Sulaiman Riau”, dan “Kartini di Mataku Orang Melayu”). Belum lama ini, baca Puisi Utama pada  The 2nd Jakarta International Literary Festival 2011 di Gedung Kesenian, Jakarta dan Baca Puisi pada acara Hari Sastera XV Sempena Melaka 750 tahun, yang ditaja GAPENA dan Kerajaan Negeri Melaka, dan Dewan Bahasa dan Pustaka-Malaysia, di Melaka, 30 Maret 2012. Tampil baca puisi bersama novelis cilik Indonesia, Tiara Ayu Karmita, yang membacakan nukilan novelnya: “Gemintang Penabur Matahari”).

 

Tajak Kalam

Selepas berlalunya Kerajaan Bintan dengan Raja Wan Sri Benai, beratus tahun lamanya, berdirilah Kerajaan Johor. Semakin ke hadapan, ianya dibukalah Ulu Sungai Carang, Pulau Bintan, oleh Sultan Johor, Raja Ibrahim dengan gelar Sultan Ibrahim Syah I, yang dibantu oleh Temenggung Tun Abdul Jamil, sebagai tapak baru, sekira dalam tahun 1673. Sampailah pada generasi berikutnya dan berikutnya lagi, Tengku Sulaiman dilantik menjadi Yang Dipertuan Besar Kerajaan Riau-Johor-Pahang pada tanggal 4 Oktober 1722  dengan gelar Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Di samping Sultan ada pembesar yang baru diadakan dalam jabatan Kerajaan Melayu ini, yakni Yang (m) Dipertuan Muda atau Raja, sebagai yang pertama adalah Daeng Marewah.

Yang Dipertuan Besar (Sultan), selanjutnya diwarisi oleh Sultan Mahmud Syah III. Pusat Kerajaan Riau-Johor, melebar ke Lingga, dan juga berujung di Pulau Penyengat. Maka, pusat Kerajaan “utama” di Ulu Riau, Pulau Biram Dewa dengan istana Kota Piring, Lingga dan Penyengat. Ada satu kawasan yang tak kalah penting bersebati langsung dengan pusat kawasan kerajaan, yakni Kampung Bulang. Di situlah juga adanya berdiam sanak keluarga Sultan Riau-Johor-Pahang-Lingga. Di situ pula, pada akhirnya jenazah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dimakamkan.

Tapak sejarah Kerajaan Riau-Lingga sebagai turunan dari Kerajaan Johor, sebegitu singkat, demikianlah adanya. Sahdan, Rida K Liamsi, seorang sastrawan yang namanya berada di rentangan sastrawan Indonesia, dipermaklumkan di tengah masyarakat—terlebih dahulu melalui sajak-sajak (puisi)—yang menulis (melahirkan) karya fiksi, berupa prosa dalam wujud novel. Sebuah judul yang ditampilkan, yakni “Bulang Cahaya”—karya Rida K Liamsi, Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2007—yang ianya menarik dan bisa muncul beberapa penafsiran. Kata “Bulang” bisa bermakna “Bulan”. Bisa “seorang gadis” atau “anak dara” Kerajaan dan bisa pula bermakna sebuah kawasan, yakni Kampung Bulang.

Bagi saya, yang paling menarik adalah ketika kata “Bulang” itu tak lain dan tak bukan adalah dimaknakan sebagai kata ganti untuk menyebut seorang “kembang” gadis atau anak dara Kerajaan  Melayu Riau-Lingga, yang bertama Tengku Buntat. Dan, nyatalah bahwa novel ini, mengisahkan tentang percintaan Tengku Buntat dengan Raja Djafar. Di samping itu, ada pula muda-mudi yang merupakan  keturunan raja dan tengku juga, yakni Raja Husin dan Tengku Khalijah. Percintaan Tengku Buntat degan Raja Djaafar, berkarut-marut dengan perkara-perkara yang melilit-lilit dan membelit-belit perjalanan sejarah Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga. Rasa cinta sungguh mengarau dan menyauk rasa, menyilu hati, dan mengenaskan!

Luka Tangis Sepangkal Cinta

Jalinan kisah dalam novel Bulang Cahaya (BC), dapat ditangkap dan diserapi dalam lubuk bacaan dan memaknaan adalah cinta terbelah-bagi. Segala-gala cinta yang ditajak oleh Raja Djaafar dengan Tengku Buntat, menjadi berkecai-kecai. Pangkal sebab, karena ayahanda Tengku Buntat, yakni Yang Dipertuan Muda Tengku Muhammad, tak bersetuju. Penyebabnya, mungkin “luka sejarah” antara Raja dengan Tengku dalam perjalan waktu dan sejarah Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga. Alasan sejati bagi Tengku Muhammad, agaknya karena sewaktu itu dua jabatan atau kekuasaan dalam Kerajaan Melayu Riau-Johro-Pahang-Lingga berada di tangan Orang Melayu, yang Yang Dipertuan Besar, Sultan Mahmud Syah III, dan Yang Dipertuan Muda Tengku Muhammad. Pihak Bugis, yang sebelumnya diberi tempat sebagai Yang Dipertuan Muda—seolah-olah telah menjadi tradisi atau warisan jabatan “tingkat kedua”—ketika itu segalanya tiada lagi. Tentulah Tengku Muhammad, tak hendak anaknya menikah dengan Raja, karena ianya akan memberi laluan ulang  kepada keturunan Bugis untuk kembali berkuasa sebagai Yang Dipertuan Muda.

Adalah sebenarnya kisah cinta antara Raja Djafar dengan Tengku Buntat, dibumbui dan dibunga-bungakan pula oleh percintaan Raja Husin dengan Tengku Khalijah. Tengku Djafar di Kota Piring, Pulau Biram Dewa, sedangkan Tengku Buntat di Kampung Bulang. Dengan arti mendalam, bermula kisah perih cinta Raja Djafar kepada Tengku Buntat dari Kota Lama, Ulu Riau dan Kota Piring, Pulau Biram Dewa. Di kawasan lain, yakni Kampung Bulang, Tengku Buntat bertempat tinggal dan senantiasa merindukan dan selalu hendak menunggu kedatangan Raja Djafar. Pada saat keduanya saling mencintai, tetapi sukar bertemu-muka untuk mencurah dan meluahkan segala-gala di hati dan cinta, dari arah yang lain datang pula kehendak dan kemauan keras sang ayahanda Buntat. Beliau berhajat sekali menjodohkan Tengku “Intan-Permata” Buntat  dengan Ilyas. Hal ini, menjadikan “tugas suci” dan “pekerjaan mulia” Tengku Khalijah dan Raja Husin sebagai penugung-sambung cinta Tengku Buntat dengan Raja Ja’far begitu tidak mudah, dan sebaliknya berat! Di celah-celah itu, Raja Husin dan Tengku Khalijah tengah tidak mudah pula hendak memadukan cinta mereka sebagaimana adanya. Semakin menganga dan merenggang, manakala Raja Djafar berpindah-tugas di Lingga. Maka, percintaan dua pasang anak manusia di dalam keluarga Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga itu, menjadi rumit dan kian mengiris luka di hati-diri. Harapan, nyaris pasti tiada bertirai-tirai dan apatah lagi bercahaya.

Buntat tampak murung. Hati kecilnya tetap sulit percaya bahwa cinta mereka akan bertaut semula. Siang malam, dia memang berharap, Raja Djafar tiba-tiba muncul di hadapannya. Datang dan berbicara dari hati ke hati. Melepas rasa rindu yang tersimpan selama berbulan-bulan ini. Firasatnya mengatakan Raja Djafar ada di Bulang. Bila dia memandang ke ujung tanjung, ke arah perahu-perahu berlabuh, dadanya berdesir. Dia seakan menangkap kelebat tubuh Djaafar melintas, memandang dari jauh. Melambai. Tetapi terkadang begitu hati kecilnya tersadar dan tahu itu hanya angan, bayang-bayang itu lenyap, dan dia merasakan kehilangan yang sangat dalam.

“Beta ini bodoh, Ijah. Rindu seorang. Sedangkan orang lain tak perduli…” katanya dengan mata yang basah mencurah rasa pedih hatinya kepada Tengku Khalijah, kalau rindunya sudah tak tertahankan.  (Hlm:154).

Rajutan tali cinta antara Tengku Buntat dengan Raja Djaafar, bukan semakin rapat, dan bertaut, melainkan semakin berkerukut dan bersembi aral. Bagamana tidak, Radja Djaafar, akhirnya menjadi Wakil Sekretaris Kerajaan, yang setia mengabdi kepada Sultan Mahmudsyah III dan menetap di Lingga pula adanya. Tatkala ada waktu senggang atau ada tugas khusus, barulah dapat sekali-sekali kembali ke Ulu Riau atau Kota Piring, yang nyatanya tak tertahankan rasa di hati hendak bersua mesra degan pujaan hati, Tengku Buntat, namun selalu majal dan gagal. Bahkan, melihat dari kejauhanpun semakin jarang dan langka. Selanjutnya, Tengku Buntat atas kekuatan keluarga akhirnya pindah dan tinggal pula di Tanjungpinang. Pada perkara lain, ayahnya yang keturunan (pihak) Melayu yang berkuasa sebagai Yang Dipertuan Muda, begitu tak suka dengan zuriat (pihak) Raja Bugis. Dia, berjaga-jaga dan berikhtiar agar Raja Ali tidak kembali ke Riau-Lingga, dan sehingga kekuasaan Yang Dipertuan Muda tetap di genggamannya. Pada akhirnya, jalinan cinta Raja Djaafar dengan Tengku Buntat semakin kusut-masai dan bahkan semakin menghalus sebagaimana ujung tikus, tersebab pihak Raja Ali (Bugis) dan pihak Tengku Muhammad semakin berseteru dan berhadap-hadapan dengan perkara yang bukan lagi jabatan, melainkan marwah. Sungguh tak terbayangkan, dalam situasi kedua keluarga besar berselisih, cinta kedua insan itu akan bersatu?

 Buntat merasa sangat nelangsa. Hati yang mulai akan bertaut kembali di Pulau Bulang, dengan kedatangan secara sembunyi-sembunyi Raja Djaafar dan dengan sabar mengajuk hati lewat Raja Husin, kini kembali putus, karena Buntat pindah ke Tanjungpinang. Sekarang tak usahkan Raja Djaafar, Raja husin pun yang biasa selalu datang ke daerah pihak Melayu membawa titahYang Dipertuan Besar, juga tak lagi muncul.  Sehingga kabar berita dari Djaafar benar-benar tak pernah ada lagi. Haya denngan merisik sana-sini, Buntat tahu Djaafar masih tetap di Lingga, dan menolak diajak pamannya, Raja Lumu, pindah ke Selangor. Dia tetap mengabdi kepada Sultan Mahmud sebagai Wakil Sekretaris Kerajaan. Ini membuat Buntat hati semakin pedih, dan hidupnya kehilangan gairah (Hlm: 162).

Dan, kisah dalam novel Bulang Cahaya karya Rida K Liamsi yang “puncak-pucuk meninggi”—masa awal sebagai penyair dikenal dengan nama: Iskandar Leo, dan almarhum H. Hasan Junus semasa hidup selalu juga akrab memanggilnya dengan nama Iskandar Leo—luar biasa “berani” dan “terang” mengurai dan mengusai peristiwa yang hampir saja terjadi pertembungan kekuatan demi “perebutan kekuasaan” Yang Dipertuan Muda (Raja) antara pihak Tengku Muda Muhammad (yang sudah menjadi Yang Dipertuan Muda) di pihak Melayu dengan Raja Ali (merasa berhak menjadi Yang Dipertuan Muda menggantikan Yang Dipertuan Muda Ria IV) di pihak Raja, selepas meninggalnya, Raja Haji (Hln:162-188).

Adalah benar sekali, Tengku Buntat dan Raja Djaafar, tidak pernah bersatu dalam rajutan dan sulaman cinta dan ikatan pernikahan. Dia, menjadi “kurban-tumbal” bagi perikatan lagi antara Melayu (Tengku) dengan Bugis (Raja). Atas titah Yang Dipertuan Besar, Sultan Mahmud Syah III, maka Tengku Buntat dinikah dengan anaknya sendiri, yakni Tengku Husin atau Tengku Long. Nama lelaki zuriat Sultan itu sama sekali tiada dikenal rapat oleh Buntat. Dengan demikian, jangankan ada rasa terkena di hati, bercakap-cakap sajapun tiada pernah sekalipun!

Tengku Buntat meraung, menangis, dan menjerit. Tak terbayang olehnya, bahwa akhirnya dia harus menjadi isteri Tengku Husin atau Tengku Long, Putra Sultan Mahmud. Orang yang baru beberapa kali dilihatnya, tapi belum dikenalnya. Tak terbayangkan olehnya, betapa hancur hati Djaafar mendengar itu. Padahal mereka sudah sepakat akan segera mewujudkan persatuan cintanya, begitu sengketa antara ayahnya dengan pihak bugis selesai…Mengapa tiba-tiba semua berubah? (Hlm:184-185).

Bagaimana Raja Djaafar yang sedang berada di Lingga, ketika mendapat kabar “Keputusan Pulau Bulang” oleh Sulthan atas usul keturunan Raja? Dia, merasa sangat pedih, karena pernikahan akan berlangsung di depan matanya, di Lingga! Sungguh, kemana muka hendak ditaruh? Kemana marwah dan harga diri hendak disigaikan lagi? Segala-gala dirasakannya sudah tumpas dan terbenam dalam pelimbahan! Maka, lebih baik membunuh yang menzalimi atau yang merampas cintanya dengan Tengku Buntat, atau dirinya sendiri tewas terbunuh! … Hatinya terasa semakin pahit, bila mengenang hari-hari terakhir di Lingga, hari-hari terakhir cintanya pada Buntat (Hlm:189). Dan, tentang bagaimana kisah pahit dan sedihnya Raja Djaafar atas direnggut-ragut cintanya dengan Tengku Buntat. Pada ujungnya pula, dia pun ikut pamanya, Raja Lumu ke Selangor. Sehingga dia dengan kekasihnya itu dipisah paksa sebagai benar-benar berpisah-dedah jauh sekali dan usai! Maka, luka tangis sepangkal cinta, cinta terlepas dan terpisah selama-lamanya tiada terkira! Pada akhirnya pula  dapat disimak dan niscayalah menyentuh lubuk hati yang paling dalam bagi sesiapa membacanya (Hlm:189-197). Dan, kepedihan itu, dapat dirasakan betul dari apa yang dikatakan oleh Raja Djaafar: “Hhm…. Buntat, selesai sudah segalanya. Pupus sudah segalanya…” (Hlm:314).

Model Cerita Bulang Cahaya

Bagaimana kita, nampak begitu jelas kemahiran dan kedalaman pemahaman Rida K Liamsi terhadap serangkaian perjalanan, pasang-surut, turun-naik atau apapun istilah peristiwa terhadap Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga dan bahkan Selangor ke dalam karya fiksi, prosa berciri khas novel. Banyak sekali kisaj-kisah yang mengharu-birukan apa-apa yang berkaitan dengan manusia, baik ianya lelaki ataupun perempuan. Banyak pula perkara-perkara yang berlaku atau terjadi seputar atau yang mengitari petinggi-petinggi Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang, misalnya tetang “racun-meracun” yang dikisahkan dalam novel ini. Yakinlah kita, bahwa beberapa kejadian, peristiwa dan apa-apa perkara baik ataupun buruk yang meyebati dengan Yang Dipertuan Besar, Sultan Mahmud Syah III dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya, atau sesipa saja dalam lingkup kerajaan itu sendiri, sulit akan dapat dibaca dengan terang di dalam senesaian-seneraian yang lain. Bayak kabar, antara lain kabar sejarah Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang yang didedahkan Rida kepada pembaca melalui novel ini.

Model penceritaan yang dituangkan atau dihidangkan oleh pengarang kepada khalayak pembaca, tidak dari pangkal sampai ke ujung atau sebaliknya dari ujung balik ke pangkal. Melainkan, dibuatnya dalam penggalan-penggalan utama, yakni berpenggal tiga. Penggalan pertama sebagai pembuka, yakni Radja Jaafar sudah mengenang cintanya kepada Tengku Buntat, ketika dia sudah tidak muda lagi, dan berada di Selangor. Berada jauh dari pusat Kerajaan Riau-Lingga. Dia, diminta pulang ke Riau-Lingga, karena akan ditabalkan (dilantik) menjadi Yang Dipertuan Muda Riau mengantikan Raja Ali yang sudah wafat.

Berlanjutnya cerita itu, pada penggalan kedua, yang  memuncak, tetapi sukarnya masa-masa percintaan Tengku Buntat dengan Radja Jaafar. Pada penggalan kedua itu, berbagai kisah, peristiwa, dan perkara-perkara lainnya, bergitu berselang-seling, melingkar, melingkup, menyungkup, menangkup dan seakan-akan menutup jalinan cinta keduanya. Berbagai informasi yang ada kaitannya dengan kebenaran Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga, dihidangkan sempurna di dalam penggalan kedua novel ini.

Selanjutnya, penggalan ketiga, diakhiri dan ditutup dengan keberadaan Raja Djaafar yang sudah tidak muda lagi, selanjutnya mengenang masa lalunya, terutama ketika menjalin kasih mersa yang sulit dengan Tengku Butat. Dia seakan-akan tiada dapat melupakan Tengku Buntat, meskipun Buntat sudah lama menikah dengan Tengku Husin. Dalam pada itu, Tengku Buntat pun tetap tak pupus-pupus juga cintanya kepada Raja Daafar, sampai-sampai sebelum dia beserta suaminya pindah dari Lingga ke Temasik atau Singapura, masih sempat-sempatnya menengok bilik Radja Jaafar, meskipun tak ada orangnya. Dan, penggalan ini, pengarang novel menggantungkan akhir daripada cinta dan kisah Tengku Buntat dan Raja Djaafar. Sehingga para pembaca, dibiarkan gelisah akan mencari dan mungkin akan akhir sebenarnya cerita novel dimaksud.

Sanggam Bahasa & Optimisme

Bagi pengarang orang Melayu, niscayalah akan bersungguh-sungguh menggunakan bahasanya sendiri (Melayu/Indonesia) dengan sebaik-sebenar-benarnya. Secara patut, beradat dan bermarwah. Dia akan menjaga eksistensinya sebagai pemilik bahasa Indonesia itu sendiri. Pastilah akan sedapat-dapatnya menggunakan bahasa itu bersesuaian dengan adab, adat-budaya dan petah Melayu. Kata-kata pulgar, dan tabu tentulah sukar ditemukan. Bahasa kias dan misal akan menjadi penekanan. Itulah pula yang dapat ditangkap dan dikesan dalam penulisan (pengarangan) novel BC.

Bagaimanapun, patut diacung jempol, bahwa Rida K Liamsi, seorang penyair, wartawan besar, jurnalis tulen, pengelola media massa terbesar dari Riu Pos Group memuncak ke Jawa Pos Group—yang saya pernah lama bersamanya, baik ketika di SKM Genta, yang ianya sebagai Ketua PWI Riau, ataupun ketika saya menjadi wartawan Harian Pagi Riau Pos, dan berlanjut menjadi Redaktur Mingguan SeMpadaN, salah satu media massa Riau Group. Juga selalulah hadir bersamanya dalam seminar sastra dan baca puisi—di dalam menempatkan petah bahasa Melayu dan “akhlak” berbahasa.

Bagi orang Melayu menjadi pengarang, bukan sekedar menghadirkan atau menghidangkan serangkaian kalimat dengan jalinan cerita, tetapi lebih menukik dan jauh daripada itu. Ianya bertanggungjawab kepada agama yang diyakini dan diamalkannya, Islam dan adab, adat-istiadat Melayu yang bersebati dan menjadi jati-dirinya. Memarwahkan dan memartabatkan bahasa adalah harga mati, karena di sanalah makna: manusia mati meninggalkan nama! Ini pulalah yang “dipetuahkan” oleh Raja Ali Haji dalam “Gurindam Dua Belas”, bahwa: Jika hendak melihat orang berbangsa lihatlah kepada budi dan bahasa. Budi dan bahasa bermakna berbuat dan berlaku (berperangai) baik, mulia dan agung (akhlakul karimah). Dengan demikian, maka perkara menyanggam (mematutkan, memarwahkan dan menghebatkan) bahasa menjadi identitas dalam melahirkan karya. Rida K Liamsi dengan novel BC, ini menjadi penanda bagi kepengarangan Melayu, dan bergeliuk menjadi “Bandar Estetika Bahasa”.

Hal terpenting kehadiran novel ini, Rida hendak mengabarkan kepada sesiapa saja, baik yang membaca karyanya ini ataupun mereka-mereka yang hidup di tanah Melayu bernama Kepulauan Riau, dan umumnya Indonesia, setiap kejadian, peristiwa, hal-ikhwal, apakah ianya baik ataupun yang buruk, senantiasa ada pesan optimisme di dalamnya. Bagaimana pertelingkahan pandangan, pembidikan kekuasaan, dan pengaruh bagi masa hadapan di dalam lingkar-lingkup Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga, antara pihak Melayu dan Bugis, niscayalah dapat menjadi teras bagi mengentalnya rasa optimisme di dalam masyarakat dan pemegang teraju pemerintahan. Serangkaian kejadian atau “peristiwa sejarah” di dalam novel ini, menjadikannya sebagai bacaan  ke kinian, dan dapat dipetik mutiara kebaikan bagi kemajuan masyarakat, bangsa dan negeri.

Simpai

Kisah cinta, perjalanan kerajaan, pertukaran-pergantian pejabat Yang Dipertuan Besar (Sultan) dan Yang Dipertuan Muda (Raja), dan perjodohan sungguh membumbui dan mewarnai jalan-jalinan dan rangkaian cerita-kisah novel Bulang Cahaya. Dapat ditangkap dan dimaknai bagaimana, semestinya berteguh hati, setia dan amanah akan marwah, harkat dan martabat. Juga, kecepatan, ketegasan dan kepastian keputusan yang mau-tidak mau harus diambil,  diputuskan atau dilaksanakan. Jikalau keputusan yang diambil itu tidak dapat memuaskan atau bahkan tidak diterima semua pihak, adalah suatu yang wajar dan sekali-kali tidak boleh bersurut apalagi mundur.

Rida K Liamsi, hendak mempertegaskan kepada sesiapa saja yang kini dan kelak mendapat rahmat atau berkah (amanah) dari Allah sebagai Pemegang Kekuasaan (menjadi Petinggi) Negeri, hendaklah betul, tegas, cepat, dan pasti. Demi khalayak ramai dan negeri, jikapun keputusan itu mesti berhadapan dengan keinginan keluarga, tidak menjadi soal. Keputusan final bukan demi keluarga, demi kelompok, demi suku, melainkan demi kebaikan dan kemaslahatan rakyat dan Negara. Itulah keputusan luar biasa hebatnya yang pernah hadir dalam Kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga, yakni keputusan yang diambil oleh Sultan Mahmud Syah III ketika menjodohkan Tengku Buntat dengan Tengku Long (Husin) anaknya, dan “mencabut” jabatan Yang Dipertuan Muda dari Tengku Muhammad, yang selanjtnya menyerahkan jabatan itu kepada Raja Djaafar. Selanjutnya, keputusan hebat itu diambil pula oleh Raja Djaafar ketika dia menadi Yang Dipertuan Muda Riau, melantik Tengku Abdurrahman menjadi Yang Dipertuan Besar, Sultan Riau-Lingga mengganti Sultan Mahmud Syah III.

Pada akhirnya, ceritan novel “Bulang Cahaya” karya Rida K Liamsi ini, bukan sekedar pantas, patut, elok dibaca, tetapi sesiapa menjadi Petinggi Negeri di kawasan Kepulauan Riau—ianya ada Gubernur Kepri, Walikota Tanjungpinang & Batam, Bupati Bintan, Karimun, Lingga, Natuna dan Anambas—sepatutnya dapat serempak-kompak berikhtiar menjadikan novel ini dapat dinkmati secara visual. Bahwa, alangkah moleknya kalau diangkat menjadi film layar lebar! Atau, paling tidak di layar kaca (sinetron TV) Tahniah!

Mataram, NTB, Dinihari, 12 April 2012

Ketika Puisi Mendaki Cinta

Pengantar Penyelenggara:

H. Abdul Kadir Ibrahim[1]

 

 

Mula Kalam Puisi

          Sungguh, hamba tidak menilik apa-apa yang sudah ditulis oleh Mastur Taher ini sebagai memberi penilaian tentang ianya sebagai puisi yang baik atau belum. Hamba menyadari benar, bahwa hamba tidaklah berkemampuan dalam kedudukan  semacam itu. Hamba niscayalah bukan seorang kritikus sastra, pun juga bukan tempaan akademisi, perguruan tinggi sastra. Hamba pastinya sebagai orang biasa saja, yang selama ini (sejak 1985 sudah menulis puisi, prosa, esai, karya jurnalistik dan sebagainya). Maknanya, hamba menulis berbabit puisi mantan Wakil Bupati Kabupaten Bintan itu sebagai kata-kata, kalimat, dedahan-dedahan apa-apa yang teringat dan terkena pula di hati dan pikiran hamba. Ya, rampai-campai cakap ringan saja, begitulah adanya.

            Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi ada yang dinamakan puisi bebas, berpola dan lama. Puisi bebas adalah puisi yang tidak terikat oleh rima dan metrum, dan tidak terikat oleh jumlah baris di setiap bait, jumlah suku kata di setiap baris. Puisi berpola adalah puisi yang mencakupi jenis saja yang susunan lariknya berupa bentuk geometris seperti belah ketupat, jajaran genjang atau bulat telur, tanda tanya, tanda seru, ataupun bentuk lain. Sedangkan puisi lama adalah puisi yang belum dipengaruhi oleh puisi barat seperti pantun, gurindam, syair, mantra dan bidal (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1990:706).

            Suatu yang pasti, puisi sudah ditulis oleh banyak penyair dari berbagai suku-bangsa dan banyak negara pula. Tentu dalam beragam bahasa sesuai dengan jati diri budaya sang penulis puisi (penyair)-nya. Puisi dari bahasa satu atau tertentu sudah pula tak sedikit diterjemahkan ke dalam bahasa suku-bangsa yang lainnya. Hal itu berlaku sebagai ikhtiar untuk memperluas jangkauan dan dapatnya dinikmati secara luas oleh manusia di sekotah dunia atau paling tidak bagi pendukung bahasa yang menjadi bahasa terjemahan puisi dimaksud. Dalam kaitan ini, dapat pula kita pahamkan bahwa puisi sudah ditulis oleh orang yang sungguh tiada sama latar budaya, pendidikan, suku-bangsanya dan agama sekalipun. Kenyataannya tak sedikit para penyair (penulis puisi) bukanlah berlatar belakang (berbekal) pendidikan sastra, melainkan dari beragam disiplin ilmu. Usah heran bila seorang ilmuan agama, dokter, ahli teknologi, dan lain sebagainya serta dari beragam pekerjaan atau profesi telah wujud menjadi penyair. Dan memang sehingga setakat ini belum ada satu sekolah pun atau satu perguruan tinggi pun di seantero dunia yang melahirkan lulusan sebagai penyair.

            Apa ianya yang dikatakan atau dinamakan puisi, telah pun banyak dikemukakan oleh banyak pemikir (penulis). Namun dapatlah kita pahamkan bahwa tidak ada satupun dari pendapat-pendapat itu yang mesti kita jadikan “kitab” pegangan di dalam menulis puisi. Sesiapa saja menulis puisi atas dirinyalah kemerdekaan penulisnya secara penuh dan utuh. Terserah baginya hendak menulis puisinya dengan pilihan kata-kata, rangkaian kalimat, jalinan baris, paduan alenia, keserasian bentuk, dan tampilan metaforanya. Alangkah merdeka dan berdaulatnya seorang penulis puisi di dalam menyusun, menata dan membentuk kata-kata sehingga menjadi puisi!  Dalam kaitan ini penulis puisi (penyair)lah yang pada akhirnya memastikan bahwa yang ia tulis adalah puisi. Bagi orang lain (pembaca dan penikmat) merdeka adanya pula untuk setuju atau sebaliknya. MT menulis puisi sebagai mengujudkan eksistensinya selaku orang Melayu, yang memang mempunyai tradisi besar dalam mengarang, di antaranya mengarang puisi.

            Mastur Taher, sebagai orang Melayu niscayalah telah ditempa, direndam, disirami, dan dimatangkan oleh tradisi Melayu, khasnya bahasa Melayu, yang  sebagai bahasa ibu menjadi bahasa Indonesia. Sebagai pengarang Melayu, MT niscayalah menyadari dan memaknai betul bagaimana kemelayuan dan keindonesiaan semasa dulu dan hari ini serta mendatang. Suatu yang pasti, persebatiannya dengan budayanya, khasnya bahasa Melayu tidak akan pernah terjejas oleh perkara apapun. Hal ini dapat dipahami, karena pengarang-pengarang Melayu, kata Jamal D. Rahman dalam tulisannya Melayu, Puisi, dan Mantra, tetap berusaha berdiri kokoh dan menggali akar kebudayaan mereka sendiri, itu merefleksikan betapa mereka menyadari sekaligus percaya diri bahwa mereka lahir dari kebudayaan besar mereke sendiri. Dalam konteks inilah mereka turut merayakan dan memanfaatkan bahasa dan sastra Indonesia yang telah mereka “sumbangkan” (Akib Penyair Cakrawala Sastra Indonesia, Akar Indonesia, Yogyakarta, 2008:xxvii).

            Dalam kaitan pembacaan puisi-puisi MT, ada baiknya kita maknakan pula apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Sapardi Jojodamono. Dalam tulisannya mengulas buku kumpulan puisi menguak negeri airmata nadi hang tuah berpendapat bahwa puisi tidak sama dan memang bukan kata-kata mutiara. Membaca puisi tidak menekankan pada pesan. Menelaah puisi pada dasarnya tidak untuk menangkap pesan, mencari-cari maknanya dan dikaitkan dengan berbagai kejadian atau penyimpangan sosial dalam masyarakat. Puisi cukup dihayati dan tak usah dipahami apa pesannya. Keindahan puisi tidak kepada apa yang disampaikan tetapi bagaimana cara menyampaikannya di luar kata-kata, lewat diksi, lewat permainan kata-kata dalam permainan bunyi (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2010: xix).

            Meski demikian, bagi kita tentulah dapat menikmati bahwa puisi-puisi Mastur Taher (MT) adalah puisi yang mencitrakan kehiarauannya terhadap berbagai-bagai peristiwa dalam penggunaan dan pemanfaatan kata-kata yang sadar atau tidak mencitrakan dirinya hadir dan ujud di tengah khalayak. Kata-kata baginya bukan sekedar puisi melainkan sekaligus sebagai pesona jelmaan hidup dan kehidupan, yang antara lain ada tanggungjawab kepada manusia, pertanggungjawaban kepada alam dan Tuhan. Bagi MT puisi tak cukup hanya sebagai luahan seni tetapi sebati langsung dengan segala keagungan dan kekekalan. Puisi adalah jalan titian ruhani yang sebati dengan akal pikiran menangkup kebenaran dan keabadian.   Subhanallah!

 

Perekaman Jejak Kejadian

            Kenyataan puisi di Nusantara, khususnya Indonesia sehingga dewasa ini sudah tidak lagi kukuh pada bingkai puisi-puisi sebagaimana dikenal pada masa lampau. Misalnya persajakan, bait, dan tipografi. Puisi sudah ditulis dengan bebas-merdeka sesuai dengan kemampuan, selera, dan suka-suka penulisnya. Padu-padan, keserasian, dan kesesuaian kata-kata pun tidak lagi dijadikan keharusan dalam puisi sejumlah penulis. Bagi mereka apa yang ditulis dan sesuai sebagai puisi, maka jadilah puisi. Paling-paling kata terakhir atau huruf terakhir (persajakan) setiap baris masih menjadi perhatian.  Lihatlah puisi-puisi MT dalam kumpulan Cinta Bangkrut Nyut-nyut ini, yang beberapa di antaranya tampak  melepaskan kelaziman dalam persajakan dan keserasian kata-kata. Jikapun ini terjadi tetapi tidak mengurangi kait-sebati keutuhan masing-masing puisinya.

            Dari 25 puisi MT boleh dikatakan seluruhnya sebagai perekaman jejak kejadian (peristiwa), baik menyangkut dirinya sendiri, orang lain, masyarakat, bangsa dan Negara. Jika hal ini berlaku kentara dan dominan dalam puisi-puisinya bukan sebagai menyanyah, apalagi menyanyuk melainkan memang sebagai realita kepribadian dirinya berbabit dengan hal-hal dimaksud. Maka dapat dipahami dengan pikiran yang sederhana,  karena sesungguhnya puisi lahir dari seorang penyair bukan tanpa sebab. Suatu yang pasti pula bahwa seringkali bersebab kejadian-kejadian yang mengitari hidup dan kehidupannya. Cakupannya tidak sempit, luas dan melebar sehingga sampai kepada bangsa, Negara, dan  Tuhan.  Kesadaran bahwa diri dan sekalian alam semesta sebagai yang bukan berkekalan menjadi pendorong sang penyair untuk memuarakan puisi-puisinya kepada keabadian dan keagungan Tuhan, Allah SWT. Dalam terokaan semacam ini puisi menjadi kabar duka dan bahagia, yang sejatinya kemenangan dalam ridha Allah yang menjadi tujuan dan capaiannya.

            Puisi Kehidupan dapat diambil sebagai satu di antara contoh bagaimana MT melakukan perekaman terhadap kepemimpinan negara-negara di dunia, yang entah elok atau sebaliknya bagi manusia dan kemanusiaan. MT melakukan perekaman terhadap bau tak sedap bidang politik, kemaruk kekuasaan, ketakutan kehilangan jabatan, arogansi, rasial, dan kasta-kasta sosial, tidak-tanduk (sikap) yang peodal dalam bermasyarakat. Perekaman terhadap penyelenggaraan pemilihan umum, kemerdekaan dan kebebasan memberi suara serta mungkin memanipulasi suara. Dalam kaitan ini berbagai luka pedih masyarakat, anak bangsa dan negara juga tak ketinggalan. Keserakahan dan kemiskinan menjadi bagian yang tak luput dan terasa menakik atau menakah dari apa yang kita maksudkan dalam puisi-puisi MT ini.

            Suatu yang niscaya bahwa tentang suatu kejadian atau peristiwa yang selalu pula dikatakan orang sebagai sejarah, dapat dikatahui, dipelajari dan dipahami bukan hanya karena adanya catatan sejarah, melainkan juga ada catatan dalam bentuk atau cara yang lain, di antaranya puisi. Catatan dalam wujud puisi niscayalah tidak sebagaimana telanjang, jelas dan tepat sebagaimana lazimnya catatan yang dikatakan sebagai catatan sejarah. Bahkan dengan catatan berita sekalipun pastilah tak serupa, berbeza adanya. Catatan yang terekam dan tersimpai di dalam puisi bersangkut-rajut dengan keindahan seni. Ianya lebih kepada penanda hakiki dan memberi makna dalam dan jauh sekali bagi akal pikiran dan perasaan. Puisi merekam berbagai perkara yang tidak mustahil luput, cuai dan tidak menjadi perhatian oleh banyak orang. Tersebab itulah perekaman puisi menjadi unik, indah, monumental dan bahkan sakral. Puisi dapat pula dipandang sebagai catatan peristiwa dengan tilikan sebagai patut atau tidak menurut akal-budi. MT membuktikan dan menghidangkannya semacam itu.

            Berkaitan dengan seneraian di atas, dapat disandingkan dengan pendapat Goenawan Mohammad dalam bukunya Kesusastraan dan Kekuasaan, yang mengatakan bahwa puisi adalah “serpihan” dari hidup ini, barangkali akan ada harganya dengan lebih menyadarkan kita, bahwa kita bukanlah cuma sebuah jendela yang menangkap satu lanskap di luar sana (Pustaka Firdaus, Jakarta, 2003:69). Kata Agus R. Sarjono dalam Nietzsche Syahwat Keabadian, puisi juga menyebatikan bersahabatan dan kehangatan di antara sesama manusia dari berbagai belahan bumi-dunia. Apalagi yang lebih sempurna selain puisi-puisi yang indah dan persahabatan yang hangat (Komodo Books, Depok, 2010:8).

                                                     

Kesadaran Sosial

          MT sebagai seorang anak manusia telah mengalami perjalanan hidup dan kehidupan yang tak banyak diperoleh dan dirasakan oleh orang lain. Paling tidak ia pernah menjadi wakil rakyat di DPRD yang terhormat dan menjadi orang besar, pemimpin rakyat, yakni sebagai Wakil Bupati Bintan. Itu adalah sebagian dari puncak capaian hidup yang telah ia lakukan dan dapatkan yang tentu bukan tersebab ikhtiarnya sendiri semata melainkan takdir Allah SWT. Sebelumnya sehingga ianya menyelesaikan pendidikan sarjana niscayalah banyak kejadian sebagai termasuk pristiwa sosial yang ditemu dan dihadapinya. Sehingga dengan demikian bukan sesuatu yang merapik ataupun mengada-ada apalagi membengak sahaja bila ia dapat mengujudkan kesadaran sosial di dalam puisi-puisinya.

            Apa ianya sebagai yang dikatakan kesadaran sosial? Bahwa MT menulis puisi sebagai kedekatakan dan kerkaitannya baik secara langsung ataupun tidak terhadap apa-apa yang berlaku di tengah masyarakat, bangsa dan negara serta agamanya. MT menyadari benar akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang berakal budi, berhati-nurani, satu di antara anggota masyarakat, niscayalah mempunyai kesadaran secara penuh akan hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat. Pada intinya sebagai kesadaran untuk ikut bertanggungjawab terhadap apa-apa yang sudah berlaku di tengah masyarakat dan bagaimana kebaikannya di masa-masa yang akan datang. Kesadaran untuk ikut bagian dalam putaran perubahan zaman. 

            Dengan kata lain ianya mempunyai perhatian, kepedulian, dan terpanggil untuk ikut serta di dalam menyuarakan, memekikkan, menerabas berbagai ketimpangan sosial yang terjadi dan berlaku di tengah masyarakat, bangsa dan negara Indonesia tercinta. Kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, keserakahan, kebohongan, kepura-puraan dan sebagainya yang memang tak pantas berlaku di tengah masyarakat ianya menjadi maksud kesadaran sosial di dalam puisi-puisinya MT. Tersebab itulah puisi-puisinya sekaligus sebagai penggambaran dan penanda bahwa MT wujud sebagai orang yang tiada mendustai akal pikiran dan kalbunya. Sudah barang bentu alamat bagi kita ia kehendaki pula semacam itu.

 

Ironis Kehidupan

          Bila kita renung-renungkan secara mendalam, dipikir-pikirkan secara panjang, dirasa-rasakan sampai jauh sungguhlah tak masuk akal bila sehingga dewasa ini sejak 17 Agustus 1945 sebagian besar rakyat bangsa kita masih belum memperoleh secara lebih baik apa yang diamanatkan oleh Pancasila. Apakah bangsa kita sudah benar-benar ber-ketuhanan yang maha esa? Apakah sudah berkemanusiaan yang adil dan beradab? Apakah sudah benar-benar ber-persatuan Indonesia? Apakah sudah ber-kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksaan dalam permusayarawatan perwakilan? Dan apakah sudah ber-keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Jawaban pastinya sudah sejak lama ada dalam pikiran dan hati kita masing-masing dan memang sehingga hari inipun sudah kita lihat, saksikan dan rasakan juga.

            MT mengungkai perkara-perkara sebagai ironis keidupan di dalam puisi-puisinya. Kita dengar, lihat dan mungkin merasa seram bila kejadian-kejadian keji dan kejam dan mungmin buiadab berlangsung di tengah masyarakat kita. Padahal kita mengagung-agungkan bahwa masyarajkat (bangsa) kita adalah bangsa yang berbudaya dan beragama. Perkelahian antar kelompok, antar kampung, antar pelajar, antar mahasiswa dan di dalam parlemen sekalipun dan sebagainya. Orang tua kandung memperkosa anak kandungnya sendiri. Orangtua membunuh anak kandungnya sendiri. Anak kandung membunuh ayah kandungnya sendiri. Kakak-adik berhubungan badan. Hubungan terlarang yang berbuntut hamil di luar nikah yang syah terjadi di kalangan muda-mudi dan sebagainya. Perampokan, kecanduan dan pengedaran narkoba, membunuh orang atas nama agama, perjudian, penculikan anak, jual beli (perdagangan) orang, transaksi seks dan korupsi. Banyak sekali ironis kehidupan di tengah dan di dalam perjalanan bangsa kita.

MT membuhulkan perkara-perara semacam itu di dalam puisi-puisinya ini sebagai menandakan ia dapat ambil berat terhadap ironis kehidupan kita.  Hal itu tentulah menandakan bahwa akal pikirannya terus difungsikan dengan elok dan di sinilah antara lain peran kekhalifahan bagi setiap orang yang mesti diembankan dengan sepatut-patutnya. Bahwa janganlah sampai ironis kehidupan itu masih terus terjadi dan berlanjut di tengah hidup dan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia, khususnya di Tanah Melayu Provinsi Kepulauan Riau, Negeri Segantang Lada, Laman Tamadun Melayu. Apa kata Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Ri’ayat Syah, Yang Dipertuan Muda Raja Haji dan Raja Ali Haji apabila mereka masih hidup, jika perkara-perkara ironis kehidupan itu bersembi di tengah hidup dan kehidupan masyarakat di Kepulauan Riua.

 

Nostalgia Pribadi

          Sebagai pribadi banyak hal yang dialami dan dilalui oleh MT di dalam hidup dan kehidupan. Apa-apa yang dilalui dan dialaminya itu menjadi nostalgia pribadinya, yang tentu tiada berkait sama sekali dengan orang lain ataupun masyarakat, tetapi ada pula yang bersebati dengan orang lain atau masyarakat. Nostalgianya dalam politik, sebagai wakil rakyat di dewan, dan menjadi wakil bupati di Kabupaten Bintan. Nostalgianya bersama orang-orang besar dan ternama ataupun dengan orang-orang yang tiada dikenal sama sekali oleh khalayak ramai.

            Nostalgia pribadi bukan bermakna tiadak berguna dan apalagi tiada penting di dalam melintasi perjalanan nasib, hidup dan kehidupan. Ianya akan dapat menjadi gandengan di dalam merempuh berbagai cabaran dan cobaan ataupun rintangan seiring berkurangnya usia karena semakin tua dan perubahan zaman. Penting artinya di dalam melewati perkara-perkara buruk ataupun baik sekalipun. Nostalgia bukan bermaksud sebagai mengenang, mengingat dan membayang-bayangkan masa lalu secara membabi buta, tetapi sebagai membanding-bandingkan, merenung-renungkan dan menimbang-nimbangkan terhadap apa-apa yang sedang atau akan dihadapi di dalam menerajui hidup dan kehidupan baik sekedar untuk diri sendiri atapun berkaitan dengan orang ramai. Pada akhirnya akan menjadikan pribadi yang tahu diri, sadar diri, dan berjati diri.

 

Merapat dengan Tuhan

          Puisi-puisi MT sebagian besar menyentakkan dan sekaligus menghenyakkan diri yang dhaif sepenuhnya berada di hadapan Tuhan, Allah SWT.  Memposisikan diri sebagai hamba yang sangat bergantung, tiada daya upaya dan tiada dapat berjarak sedikitpun dengan Tuhan, Allah SWT. Setiap isapan napas senantiasa bergemuruh hanya bagi Allah SWT.

            MT melalui puisi-puisinya dapat dipahami bahwa betapa pentingnya sesiapa pun orangnya mestilah memaknai bagian-bagian hidupnya semasa di dunia yang tiada kekal dan hanya fana ini. Bagian-bagian dimaksudkan adalah bagian pribadi, keluarga dan   masyarakat. Bagian untuk bangsa, negara dan agama. Bagian ketika muda, dan tua. Ketika sehat, kuat, sempat dan sakit. Ketika tiada berpunya dan berhasil ataupun sukses. Ketika mulia dan bagaimana sebalaiknya. Bagian bekerja dan mengabdi kepada Allah SWT. Bagian dosa ataupun pahala. Bagian berbuat baik, buruk ataupun pecundang. Bagian ketika hidup dan bagaimana ketika mati.

             Bagaimana perlunya pribadi merapat dengan Tuhan? Pastilah banyak jawabannya. Tapi yang pasti perlu dtegaskan, karena setiap orang tidak dapat berbuat apapun kecuali atas kehendak, karunia dan anugerah Tuhan. Pada akhirnya orang akan dapat sangat memaknai dan memberi manfaat kepada hidup dan kehidupan baik untuk dirinya sendiri, keluarga atupun masyarakat. Kesemuanya itu tiada akan pernah sedikitpun menjauhkan dirinya dari kemaha-besaran Tuhan. Marapat dengan Tuhan di situlah keutamaan, kemuliaan, dan keberuntungan yang hakiki baik di dunia maupun akhirat. Merapat dengan Tuhan itulah sebenar-benarnya pucuk cinta sebagai seorang hamba bernama manusia.

          MT telah menghidangkan untaian kata, serangkaian kalimat terbangun dari apa yang dinamakan puisi bagi sesiapa saja sehingga khusyuk hanya berbuat kebajikan sesama manusia, dan pengabdian kepada Allah SWT penuh sempurna. Puisi bagi MT bukan sekedar selera seni bahasa ataupun sastra semata, tetapi ianya sebagai perkara yang menghikayatkan juga hal ihwal dunia dan punca bahagian sempurna di akhirat kelak. Bagi MT puisi adalah cara lain untuk membetulkan masyarakat, bangsa dan negara dan sekaligus membenarkan kepribadian manusia agar semata bertakwa kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT. Puisi bukan hanya mampu menyentuh hati-nurani tetapi juga sekaligus menyinari matahari. Karena ianya buah bernas dan jelmaan akal pikiran. Dan nyatalah ketika puisi mendaki cinta maka segalanyapun menjadi sempurna. Maka akhirnya dengan puisi jadikanlah segala berarti!

 

 

Tanjungpinang, 29 Maret 2013/

17 Jumadil Awal 1434 H   


                [1] Abdul Kadir Ibrahim (Akib) seorang sastrawan nasional dari Kepulauan Riau, yang menulis karya puisi, prosa (cerita pendek dan novel), esai sastra, esai politik, esai agama dan lain  sebagainya. Karya-karyanya sudah dibahas oleh sejumlah pengamat dan kritikus sastra, akademisi dan sastrawan secara nasional yang terangkum dalam buku AKIB-Abdul Kadir Ibrahim Penyair Cakrawala Sastra Indonesia (Penyelenggara: Joni Ariadinata, Pengantar: Jamal D. Rahman, Akar Indonesia, Yogyakarta, 2008). Karya-karyanya yang sudah terbit sejak tahun 1991 adalah antara lain, Karpet Merah Wakil Presiden (Kumpulan Cerpen, 2013), Tanjung Perempuan (Kumpulan Cerpen, 2013), Santet Tujuh Pulau (Kumpulan Cerpen, 2013), Memburu Kasih Perempuan Sampan (Novel, 2013), Mantra Cinta (Kumpulan Puisi, 2013), Politik Melayu (Esai, 2013), Tanah Air Bahasa Indonesia (Esai, 2013), Kartini & Aku Orang Melayu (Esai, 2013), Ibu Kota Keberaksaraan (Bersama Penyair Indonesia lainnya, Kumpulan Puisi, 2011), Hari Puisi Indonesia (Bersama Penyair Indonesia lainnya, Kumpulan Puisi, 2012), Tanjungpinang Punya Cerita (Bunga Rampai Cerpen dan Puisi, 2010), Dermaga Sastra Indonesia (Penanggungjawab, 2010), Taman Para Penyair (Bersama Penyair Kepulauan Riau, Penanggungjawab, kumpulan puisi, 2010), Percakapan Lingua Franca (Antologi Puisi Temu Sastrawan Indonesia III, Penanggungjawab, 2010), Ujung Laut Pulau Marwah (Antologi Temu Sastrawan Indonesia III, Penanggungjawab, 2010), Penafsiran Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji (Bersama penulis lain, Esai, 2009), Rampai Islam dari Syahadat sampai Lahad (Esai Islam, 2006), Riwayat Singkat Pahlawan Nasional Raja Ali Haji (dengan penulis lain, Esai, 2007), Riwayat Singkat Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah (dengan penulis lain, Esai, 2007), Rampai Islam dari Syahadat sampai Lahad (Esai Islam, 2006), Menuju Bulan (Antologi Puisi Penyair Nusantara, 2006), Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (Antologi Puisi, bersama sejumlah Penyair Indonesia, 2006), negeri airmata (Kumpulan puisi, 2004), Aisyah Sulaiman Pengarang & Pejuang Perempuan (dengan penulis lain, Esai, 2004), Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu-Indonesia (dengan penulis lain, Esai, 2004), Harta Karun (Cerita anak & remaja, 2001), Menjual Natuna (Kumpulan Cerpen, 2000), Cakap Rampai Orang Patut-patut (bersama Muchid al Bintani, Esai, 2000), Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu (bersama Sindu Galba, Esai, 2000), Sagang’96 (Kumpulan Karya terbaik Riau Pos, 1996), Menggantang Warta Nasib (Kumpulan puisi bersama penyair Riau, 1992), 66 Menguak (Kumpulan Puisi, 1991).  Atas dedikasinya dalam bidang kebudayaan daerah dan nasional, sudah mendapat empat penghargaan nasional.  Masih ada sejumlah karya yang belum terbit.

Ke dalam “Gonggongan Anjing” dan “Air Rindu”

Puisi Kazzaini Ks & Jamal D Rahman

Oleh: Haji Abdul Kadir Ibrahim

Aku Bukan yang Anjing

Sepanjang hamba membaca puisi dari berbagai buku kumpulan puisi dan banyak penyair, sepertinya belum lagi pernah terbaca apa yang dikenal dengan “anjing”. Binatang itu memang menjadi salah satu jenis bianatang peliharaan, tetapi oleh orang-orang tertentu saja. Dalam masyarakat Islam pada umumnya tidak banyak yang memelihara anjing atau kata orang kampung saya-Natuna: Asok. Jikapun mereka memeliharanya hanya sekedar untuk menjadi anjing berburu, baik pelanduk ataupun babi. Tapi mereka tidak memperlakukannya sebagaimana kucing. Meski demikian tetaplah ada orang yang memelihara anjing sebagaimana memelihara kucing, yang antara lain berada di dalam rumah tuannya, dan tak jarang dipeluk, dicium dan dibawa tidur atau dibawa pergi ke mana saja. Bagi orang Islam ada perbedaan pendapat dan pandangan terhadap anjing. Tersebab itu ada yang tetap setia dan penuh kasih-sayang memelihara anjing dan sebaliknya kukuh dengan menganggabnya haram.

Dalam masyarakat kita, tentunya ada di antaranya yang memandang dan menganggap anjing binatang yang tidak perlu dipelihara dan kalau perlu dijauhi. Mereka selalu mempersamakan, membabit-babitkan atau mengait-ngaitkan anjing dengan perkara kotor, buruk, tidak baik ataupun hina-dina. Misalnya pantun pusaka mengisyaratkan: bukan catuk bukan cawan/ tali gasing di bawah rumah/ bukan patut jangan dilawan/ seperti anjing memakan remah. Dalam ungkapan lain yang lazim: “biarlah anjing menggongong kafilah tetap berlalu”. Maknanya mengesankan anjing sebagai tiada kemuliaan.

Semasa saya masih usia sekolah dasar sangatlah suka dan senangnya memelihara anjing. Paling tidak ada tiga ekor anjing saya. Kegunaannya untuk memelihara kebun ubi ataupun padi dan kelapa. Selain untuk menjaga kebun juga untuk berburu babi, melapon (memburu) pelanduk (kancil ataupun napuh) dan berburu kera. Anjing menjaga kebun. Setiap petang saya selalu ke kebun untuk membuat api unggun (yang dalam bahasa kampung saya: api panduk) di dekat pondok. Ditinggalkan makanan sederhana yang hanya terdiri dari rebus ubi, bercampur kelapa kukur dan sedikit sisa-sisa ikan untuk makannya. Jika dia lapar, maka dia akan memakannya. Lalu anjing ditinggalkan di situ. Dia akan setia berada di pondok, di dekat api agar tidak digigit nyamuk dan disergap dinginnya malam. Bila ada babi hutan yang akan masuk ke kawasan kebun maka anjing segera mencium baunya, sehingga dengan sendirinya beranjak dan mengendap-endap ke arah datangnya bau babi. Jika semakin keras baunya itu maka anjing pun segera berlari menjurut atau memburu babi yang hendak merusak kebun sambil menyalak sejadi-jadinya!

Untuk melapon pelanduk. Lapon adalah serupa anyaman tali nilon serupa mata-mata jaring. Tetapi dianyam tidak memanjang melainkan berbentuk bulat. Di pinggir atau di sekelilingnya diberikan bingkar rotan mudak seukuran belah dua jari kelingking yang dimasukan melalui mata-mata jaring lapon. Fungsinya seperti jerat atau lebih serupa tanggul atau tangguk. Lapon di pasang di setiap lorong yang diperkirakan sebagai jalannya pelanduk yang akan lewat. Selesai dipasang, maka seorang menjaga lapon itu dari tempat yang tersembunyi. Di bagian lain yang jauh berates-ratus meter, bisa berkilo meter jaraknya, seseorang membawa anjing dan kemudian mengecuhnya supaya masuk ke rimba-raya tersebut. Diecuh-ecuh dan disorak-sorak, sehingga anjing pun melompat, mengambur-ngambur berlari nyasap sambil menyium-nyium bau pelanduk (kancil) dan kali berikutnya  menyalak hebat. Sang tuannya pun mengikutinya dari belakang sambil bersorak-sorak sejadi-jadinya. Anjing terus memburu pelanduk sambil menyalak. Akhirnya pelanduk berlari melalui lorong-lorongnya dan hendak menyelamatkan diri dari terkaman anjing. Tapi sayang tatkala sedang berlari kencang itu tiba-tiba menyerang lapon dan langsung saja tersangkut dan tergandul. Maka seketika seseorang yang menunggu lapon tadi segera menangkapnya. Anjing pun berhenti menyalak. Terengah-engah dan lidah terjulur segera duduk di dekat tuannya. Tapi terlihat anjing itupun senang sekali. Bukankah untuk memburu penjahat pun memakai anjing? Begitu juga untuk menemukan sesuatu barang terlarang? Kita kenal anjing pelacak yang menjadi bagian dalam membantu tugas  pihak keamanan.

Sepengetahuan saya, anjing meskipun juga memakan kotoran manusia sebagaimana juga ayam tetapi sangat menjaga kotorannya sendiri. Anjing peliharaan di suatu rumah, maka yakinlah dia tidak akan pernah buang kotorannya di bawah rumah—jika rumah bertiang—dan termasuk di halaman bahkan tidak di sekitar semak belukar yang dekat dengan halaman rumah. Jika ia akan buang kotorannya dia akan berlari kencang ke semak-semak yang jauh dan buang kotoran di situ. Begitu juga kencing. Dia tidak akan kencing di sekitar halaman rumah. Hanya saja kalau kita bawa dia berjalan, maka sambil menyium-nyium kiri-kanan jalan yang berumput. Behenti dan kencing di situ. Sepanjang perjalanan tak terhitung kali anjing akan terkencing. Karena itu sebaiknya anjing tak usah diikat, karena dia akan buang kotorannya tidak di tempat pemeliharannya, tetapi nun di semak-semak belukar yang agak jauh dari pekarangan rumah tinggal sang tuannya. “Anjing: binatang yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu dan sebagainya” @ LihatKamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 40). Kita percaya tidak ada satupun mahluk yang dicipatakan Allah yang tiada berguna dan apalagi sia-sia! Bahkan dari sifat-sifat anjing kita dapat pelajaran dan i’tibar bagi mengarungi hidup dan kehidupan ini. Adakah kita dapat lebih setia daripada kesetiaan yang ditunjukkan oleh anjing kepada tuannya?!

Adalah Kazzaini KS, salah seorang penyair tampil membaca puisi sempena Deklarasi Hari Puisi Indonesia, di Teater Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau, 22 November 2012, yang berjudul “Anjing yang Menggongong” @ dikutip dari antologi puisi Hari Puisi Indonesia, (2012: 167-168). Kubiarkan anjing menggonggong/ menyalak parau/ sampai melengking suaranya// kubiarkan anjing menggonggong/ dengan wajah yang beringas/ taringnya nyeringai keras/ pandangannya menghunjam dengan ganas// jika malam pun/ kubiarkan juga anjing menggonggong/ lolongnya panjang/ bahkan sampai merintih mengerang// kubiarkan anjing menggonggong/ dengan tubuh menggeram/ seakan ingin menerjang menerkam// kubiarkan anjing menggonggong/ walau kadang gerun juga/ tapi tak jarang aku terkikik pula/ pernah juga terpikir olehku/ untuk balas menggonggong/ menyalak parau/ melengking dan melolong panjang/ nampilkan wajah beringas/ nyeringai taring yang keras/ menghunjam pandang ganas/ tapi mana kubisa/ karena aku bukan anjing/kubiarkan anjing menggonggong/ karena dia memang anjing/ ah. Dasar anjing.(Seoul, 2012).

Puisi tersebut memberi pemahaman kepada kita bagaimana sifat-sifat anjing dan perilakunya. Bagi kita sebagai manusia gonggongan anjing bisa menakutkan, bisa membisingkan, bisa menggeramkan, bisa pula hendak ditiru. Kita dapat menafsirkan pula apa-apa maksud gonggongan anjing tersebut. Bisajadi sebagai ia sedang risau, galau, berduka-cita, geram atau sebaliknya bersuka-cita. Atau mungkin juga sebagai pertanda dia sedang melihat makhluk gaib yang tiada kemampuan manusia untuk melihatnya. Atau sebagai tanda ia sedang memanggil-manggil suatu makhluk di jagat raya ini, siapa tahu?! Mana tahu itulah caranya ia sedang memuja Tuhan dan berdoa?! Segalanya menjadi serba mungkin, karena Allah Maha Mengetahui segala bahasa mahluk-Nya.

Yang pasti anjing termasuk mahluk yang dikabarkan Al Quran sebagai mahluk yang ikut menikmati tidur panjang selama masa beratus-ratus tahun di dalam gua bersama pemuda-pemuda beriman dan shaleh yang disebutkan dengan Azhabul Kahfi. Mereka menyelamatkan diri dari Raja yang zalim dan ingkar dari Allah. Mereka akhirnya diselamatkan oleh Allah di dalam gua. Adanya anjing bersama mereka pastilah sebagai pertanda bahwa binatang itu  adalah mahluk yang amat berarti pula bagi manusia atau paling tidak sesiapa yang memeliharanya. Dalam kaitan ini tentulah atas petunjuk, pedoman dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. “Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur, dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua”. (Q.S.18:18). Tentang anjing itu disebut lebih dari sekali leh Allah di dalam Al Quran (Q.S.18:22). Dengan demikian maka dapat dipahami bahwa anjing dalam kenyataan pemuda di dalam gua itu tak lain tak bukan adalah sebagai penjaga. Memberi perlindungan dan rasa aman kepada tuannya. Allah juga menjadikan anjing sebagai perumpaan terhadap orang-orang yang mendustai Ayat-ayat-Nya. “Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami”. (Q.S.7:176). Yang dari ayat itu tidak dapat dimaknakan bahwa anjing adalah mahluk yang hina. Jika ia hanya menjulurkan lidahnya, tentulah karena ia memang sebagai binatang yang tiada Allah bekali ia dengan akal-pikiran, sehingga ia tiada dapat menangkap dan mengerti sama sekali apa yang disuruh kepadanya (pergi) atau dibiarkan saja, dia tetap menjulurkan lidahnya saja. Ini pastilah karena ia tidak dapat berpikir!

Kazzaini dengan puisinya itu juga memberi tahu kepada kita betapa manusia itu sebenarnya punya naluri hendak meniru apa-apa saja, termasuk meniru gonggongan anjing. Tapi jika akal dan rasa malunya disanjungkan, maka dengan seketika keinginan gila semacam itu akan segera senyap dari naluri atau pikirannya sekalipun. Hal mustahak hendak dikabarkan Kazzaini kepada kita bahwa jangan hidup ini mengabaikan akal pikiran, hati-nurani, kebaikan-kebaikan karena ianya dapat dipersamakan dengan kebodohan anjing tersebab ianya memang dijadikan Allah tiada berbekal akal-pikiran! Meski demikian ada makna lain yang dapat kita singkap bahwa Kazzaini menyampaikan kegeramannya kepada pihak atau orang yang lain, yang bisa saja berkaitan dengan kekuasaan atau antara pusat dan daerah dalam perkara keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran dari hasil-hasil alam negeri yang tiada merata-setara berkeadilan sebanyak-banyaknya untuk rakyat Indonesia. Bisa saja puisi itu sebagai mengisyaratkan bagaimana pada bagian yang berbeda dan bahkan berlaianan yang penuh kepura-puraan, tipu muslihat, dan kitidak-adilan perlakuan pemerintah pusat kepada Riau? Dalam situasi semacam itu Kazzaini memposisikan Riau sebagai bukan anjing, dan sebaliknya entah siapa yang hendak dipertegasnya sebagai sebenar-benarnya anjing?

Air Rindu Membasuh Diri

Jamal D. Rahman seakan-akan menghentakkan kita dari tertidur panjang dengan tanpa daya apa-apa. Bagaimana ia mengatakan “bermain air” akhirnya “rindu” lalu bagaikan “di atas kaca”. Eloknya “berpegangan tangan”. Lebih dahsyat lagi apabila “bergenggaman”, karena akan dapat bukan hanya menghangat kedua tangan dan tubuh yang mempunyai tangan dan genggaman, tetapi sekaligus “menghangatkan jam dinding yang mendetak-detak di dada”. Yang ini bisa saja dimaksudkan sebagai jantung, hati atau kalau ianya buruk maka bernamalah ia hawa-nafsu. Tapi nyatalah sekali apa yang dipuisikan oleh Jamal D Rahman sebagai “jam dinding yang mendetak-detak di dada” agaknya “rasa” Tuhan.

Sang penyair menghenjutkan untuk pembaca betapa tak sedikitnya kita sebagai manusia yang mengaku sebagai hamba-Nya tetapi sia-sia membiarkan malam berlalu, yang disebutkannya sebagai “malam pun bangkit dari jendela”. Sayangnya ketika malam melenyap tak sedikit dari kita menyadari bahwa dia tidak dapat diraba apalagi dipegang dan memang tak pernah berikhtiar secara gigih untuk merengkuhnya dekat, erat dan kuat.

Pengembaraan diri dari waktu ke waktu sejati dapat merampai-rampai kerugiannya. Dengan alamat itu maka pastilah akan bergerak dan melaju untuk mendapatkan kebaikan diri di hari-hari mendatang. Keagungan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa pun tiada akan timbul tenggelam dalam jiwa dan akal pikiran. Dalam makna itu maka dapat saja kita memaknakan apa yang dikatakan oleh Jamal sebagai “kaca” adalah sajadah atau bentangan alam untuk bersujud menghentakkan dahi bagi sepenuhnya pengabdian kepada Ilahi.

Betapa manusia dalam kelebihannya sebagai makhluk Allah, tetapi tak disangkal pula alangkah banyak kelemahan dan kekurangannya. Di antara kekurangannya adalah selalu lupa diri terhadap Sang Penciptanya. Sehingga dalam meniti gelombang dan buih sekalipun tak ingat mengucapkan syukur kepada-Nya. Memang manusia selalu lupa, karena akalnya senantiasa berbaur dengan nafsunya. Akal fikirannya tak jarang pula bertukar tempat dan fungsi dengan kekuatan dan kemampuan agama dalam memberi pedoman kepada manusia.

Kembali sadar diri yang paling puncak dan nikmat niscayalah jikalau kepada Tuhan, Allah SWT. Untuk itu tak cukup hanya merasakan tetapi mesti berbuat yang dikatakan oleh agama sebagai beramal shaleh dan bertawakkal kepada-Nya. Karena itu bukan hanya perbuatan dan tindakan yang penuh seluruhnya diarah-tujukan untuk-Nya tetapi sekaligus senantiasa membasahkan bibir dengan zikir membasuhkan kalbu dan akal fikiran dengan rasa zikir yang dilafazkan.

Puisi Jamal yang kita maksudkan ini nyatalah pula sebagai mengisyaratkan hidup ini tak cukup hanya untuk sendirian. Tetapi mesti dekat dan melekat dengan tanggungjawab dan kepedulian lainnya, baik sesama manusia, mahluk lainnya dan  alam lingkungan sekaliannya. Karena dengan begitulah tidak menjadi durhaka atas kewajiban sebagai mahluk yang paling sempurna dan mulia serta khalifah di muka bumi. Tahu diri, mengenal budi dan membalasnya adalah kearifan yang tiada terkira sehingga buah hasilnya kemuliaan dan kebahagiaan yang tak hanya di alam fana ini tetapi kelak ketika maut sudah melepas dari jasad.

“Bemain Air Rindu di Atas Kaca” @ dikutip dari buku antologi puisi Hari Puisi Indonesia (2012:142). kita bermain air rindu di atas kaca. kita berpegangan. kita bergenggaman./ menghangatkan jam dinding yang mendetak-detak di dada. malam pun/  bangkit dari jendela. tapi, oh, tanganmu tak ada. jarimu tak ada./ maka aku pun menjelma beling. menajamkan waktu agar diam lebih/ malam dibanding usiaku, meruncingkan detak jam agar malam lebih/ berdebur dibanding dadaku. dan ketika kita bermain air rindu di atas/ kaca ini lagi, dari bercak zikirku pada tanganmu yang paling gaib,/ airmataku akan membiru senjdiri….

            Persebatian diri dengan Tuhan, pada akhirnya membahagiakan jiwa. Jamal kemudian mempertegas keabadian menjalin hubungan erat dan mesra dengan Sang Maha Pemilik Jiwa. Adakah kita melesap diri sia-sia dan sehingga celaka bersama waktu yang bergabus kencang berlalu lebih laju dari usia kita. Puisi sang penyair mengutis dan sekaligus merenggut kemanusiaan membawa ke dalam rasa ketuhanan untuk bermartabat sebagai manusia yang berguna.

Penutup

Puisi bukanlah sabda, tetapi ianya menyucikan jiwa. Aku tiada memaksa kata-kata atas encik-encik, tuan-tuan dan puan-puan, melainkan sekedar berdendang. Mau terhibur atau terkena di hati, sungguh tiada kuasa kita mengetahuinya. Kata-kata tiada akan bermakna, karena makna hanya kepada kita sebagai manusia sahaja. Tersebab rindu-rasa semuanya menjadi indah yang lama sekali…..

Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 8 Desember 2012 

Puisi Abdul Kadir Ibrahim

KekuasaanNeraka
zaman tercurah airmata dan darah keinginan tamak keras legam
menyihir rindu pasung kelat racun nyawa semurah antah
kemaruk hidup menyangkul luka zuriat dunia
meniti bala peradaban cabikkoyak
gemerentam meriam bom
panas nuklir ludah
kekuasaan
amerika
josh
w
bush
sekutu barat jahanam
ambur demokrasi hak azasi
sesungguhnya jala-jaring iblis dajjal
iraq iran libya palestina pakistan indonesia
negara islam sedunia bilapun nerakalah! amerika punya surga….
Tanjung Pinang, 2003